Perayaan malam Tahun Baru 2025–2026 di sejumlah negara Eropa, khususnya Prancis, Belanda, dan Jerman, diwarnai oleh eskalasi gangguan keamanan berupa pembakaran kendaraan, serangan terhadap aparat, serta aksi vandalisme. Skala kejadian menunjukkan bahwa perayaan publik berskala besar masih menjadi momen rawan terjadinya kekerasan dan ketidakstabilan sosial.
Prancis mencatat dampak paling signifikan dengan total 1.813 kendaraan dibakar dalam satu malam. Wilayah Bas-Rhin, Rhône, Gironde, Val-d’Oise, dan Nord menjadi daerah dengan tingkat insiden tertinggi. Besarnya angka tersebut mengindikasikan pola berulang yang kerap terjadi setiap malam Tahun Baru di Prancis, khususnya di kawasan urban dan pinggiran kota besar.
Meskipun pemerintah mengerahkan sekitar 90.000 personel kepolisian, upaya pengamanan belum sepenuhnya mampu mencegah tindakan kekerasan. Penangkapan 125 orang di Paris memperlihatkan adanya keterlibatan kelompok yang terorganisasi, termasuk mereka yang diduga sengaja merencanakan kekerasan, perusakan, serta pelanggaran hukum lain seperti kepemilikan zat terlarang.
Di Belanda, gangguan keamanan berfokus pada serangan langsung terhadap petugas layanan darurat, khususnya di distrik Kanaleneiland dan Overvecht. Keterlibatan kelompok anak muda dan penggunaan kembang api sebagai alat penyerangan menunjukkan meningkatnya risiko dari penyalahgunaan petasan dalam konteks kerusuhan massal.
Penggunaan meriam air oleh aparat menandakan bahwa situasi dinilai cukup serius dan berpotensi membahayakan keselamatan petugas. Luka yang dialami seorang polisi menjadi bukti nyata tingginya tingkat ancaman selama insiden berlangsung.
Jerman juga menghadapi tantangan serupa, dengan ratusan orang ditahan di Berlin dan puluhan petugas terluka akibat ledakan petasan di berbagai kota, termasuk Hamburg dan Leipzig. Pola serangan menggunakan benda berbahaya seperti petasan dan botol kaca mencerminkan meningkatnya agresivitas terhadap aparat penegak hukum selama perayaan publik.
Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa: Perayaan Tahun Baru di Eropa masih memiliki potensi kerusuhan tinggi, terutama di kawasan perkotaan; Pembakaran kendaraan dan serangan terhadap aparat menjadi bentuk ekspresi kekerasan yang berulang dari tahun ke tahun; Keterlibatan kelompok muda mengindikasikan adanya persoalan sosial yang lebih luas, termasuk frustrasi sosial, lemahnya kontrol publik, dan budaya kekerasan simbolik saat perayaan.
Kerusuhan malam Tahun Baru 2025–2026 di Prancis, Belanda, dan Jerman menegaskan perlunya evaluasi strategi pengamanan publik, khususnya dalam pengendalian petasan, pengawasan wilayah rawan, serta pendekatan preventif berbasis komunitas. Tanpa langkah komprehensif, insiden serupa berpotensi terus berulang pada perayaan besar di masa mendatang.