Penulis Oleh:
Beby (251010501704)
Atikah Diansyah Putri (2510105y01736)
Mega Nur Azizah (251010501692)
Mahasiswa Universitas Pamulang, Prodi Manajemen
Gaya Kepemimpinan Partisipatif
Partisipatif adalah salah satu gaya kepemimpinan
yang bisa digunakan oleh seorang pemimpin dalam menjalankan kegiatan
organisasi. Menurut Wibowo dalam (Yeni, 2020). Gaya kepemimpinan
partisipatif menunjukkan loyalitas dan kepercayaan dari bawahan kepada
pemimpinnya karena pemimpin melibatkan bawahan ke dalam pertimbangan penuh,
menerima saran dan pengetahuan serta keterampilan dari bawahannya sebelum
mengambil keputusan. Gaya kepemimpinan partisipatif akan memberikan kesempatan
kepada bawahan untuk memberikan pemikiran, gagasan, dan keahliannya, sehingga
bawahan merasa memiliki peran dalam organisasi, yang akan mengakibatkan bawahan
merasa nyaman dan dibutuhkan oleh pimpinan. Menurut Talalu dalam (Yeni, 2020). Penelitian di Desa
Longalo tentang pengaruh kepemimpinan partisipatif terhadap pengambilan
keputusan menyatakan bahwa terdapat pengaruh gaya kepemimpinan partisipatif
terhadap pengambilan keputusan. Ini membuktikan bahwa terdapat hubungan antara
gaya kepemimpinan partisipatif dengan pengambilan keputusan (Talalu, 2014) . (Prianto, 2016). Gaya kepemimpinan
partisipatif diperlukan dalam pengambilan keputusan.
Dalam penerapannya, gaya kepemimpinan partisipatif tidak hanya sekadar membuka ruang diskusi, tetapi juga menciptakan budaya organisasi yang menghargai setiap kontribusi secara setara. Pemimpin yang menjalankan pendekatan ini berperan sebagai pendengar aktif yang mampu menyaring beragam masukan menjadi keputusan yang terukur dan tepat sasaran. Proses ini secara tidak langsung melatih anggota tim untuk berpikir lebih strategis, karena mereka tidak hanya menjadi pelaksana kebijakan, melainkan turut andil dalam membentuknya. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa keterlibatan karyawan dalam proses pengambilan keputusan dapat meningkatkan kualitas keputusan itu sendiri, sekaligus memperkuat komitmen mereka dalam pelaksanaannya. Selain itu, kepemimpinan partisipatif juga berperan dalam membangun kepercayaan antarpihak di dalam organisasi. Ketika seorang pemimpin secara konsisten mempertimbangkan masukan bawahannya, hal tersebut mengirimkan pesan bahwa setiap individu dipandang sebagai mitra strategis, bukan sekadar sumber daya yang dikelola. Kepercayaan yang terbentuk dari interaksi semacam ini menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan kolaborasi jangka panjang, serta menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat, produktif, dan adaptif terhadap berbagai perubahan.
Pentingnya Etika Dalam Kepemimpinan
Kepemimpinan sering dibahas sebagai kemampuan
dasar dan pengetahuan pribadi dalam kajian manajemen (de Vasconcelos et al., 2016). Kepemimpinan juga
dapat didefinisikan sebagai kekuatan yang dapat membujuk orang lain untuk
melakukan dan mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan dengan kapasitas
untuk menginspirasi orang lain untuk berkolaborasi demi tujuan bersama (Balasubramaniam et al., 2021). Kepemimpinan adalah
proses mengarahkan suatu kelompok ke satu arah. Gaya kepemimpinan adalah
karakteristik yang sangat penting dari pemimpin. Dijelaskan bahwa gaya
kepemimpinan adalah cara yang digunakan oleh seorang pemimpin untuk
mempengaruhi perilaku pengikutnya (Balasubramaniam et al., 2021). Mengenai jenis gaya
kepemimpinan, menurut Bass dan Avolio, (2004) dalam (Al-Malki & Juan, 2018). Mengidentifikasi
tiga jenis gaya kepemimpinan, di antaranya: transformasional, transaksional,
dan laissez-faire. Formulasi kepemimpinan ini telah mengarah pada standar
baru dalam pemahaman tentang efek gaya kepemimpinan. Dalam klasifikasi lain, Robbins
& Coulter (2006). Menguraikan teori perilaku kepemimpinan yang
mendefinisikan gaya kepemimpinan sebagai otokratis, demokratis, dan
laissez-faire.
Dari sini dapat kita simpulkan bahwa gaya kepemimpinan adalah model perilaku yang digunakan oleh pemimpin ketika bekerja dengan karyawan. Efektivitas kepemimpinan diprediksi melalui gaya kepemimpinan yang digunakan dalam suatu organisasi untuk meningkatkan atau menghambat komitmen dan antusiasme karyawan (Amegayibor, 2021). Selain daripada itu, masih ada beberapa jenis kepemimpinan lain yang banyak dipakai oleh seorang pemimpin dalam menjalankan suatu organisasi, seperti gaya karismatik, gaya paternalistik, gaya partisipan, gaya autentik dan lain-lain. (Meyla et al., n.d.).
Kepemimpinan Demokratis
Kepemimpinan atau leadership sendiri dapat
diartikan sebagai sebuah proses sosial yang melaluinya seseorang dengan sengaja
memberikan pengaruh kepada orang lain untuk menata perilaku dan hubungan mereka
(Yeni et al., 2019). Pemimpin adalah
seseorang yang mempergunakan wewenang dan kepemimpinannya untuk mengarahkan
orang lain serta bertanggung jawab atas pekerjaan orang tersebut dalam mencapai
suatu tujuan (Waedoloh et al., 2022). Menurut Armstrong,
Herni Mulatsih, et al. (2018), kepemimpinan adalah “proses memberi inspirasi
kepada semua karyawan agar bekerja sebaik-baiknya untuk mencapai hasil yang
diharapkan”. Kepemimpinan dibutuhkan untuk memengaruhi suatu kelompok ke arah tercapainya
tujuan. Untuk mencapai sebuah tujuan organisasi, kepemimpinan mutlak harus
dilakukan oleh seorang pemimpin organisasi. Menurut Octavia dalam (Saputra et al., 2021). Dalam mewujudkan
suatu organisasi yang baik, seorang pemimpin perlu memiliki gaya kepemimpinan
sebagai alat dalam memengaruhi bawahan untuk mencapai tujuan organisasi.
Kepemimpinan demokratis adalah pendekatan kepemimpinan di mana pemimpin mendorong partisipasi aktif, pengambilan keputusan kolektif, dan keterlibatan anggota tim dalam proses pengambilan keputusan. Teori Kepemimpinan Partisipatif, yang dikemukakan oleh Hollander et al. (1973), menekankan pentingnya partisipasi anggota tim dalam pengambilan keputusan. Penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan partisipatif dapat meningkatkan motivasi, kepuasan kerja, dan kinerja anggota tim (Djunaedi & Gunawan, 2020). Teori Kepemimpinan Transformasional, yang dikemukakan oleh Longshore & Bass (1987), juga relevan dalam konteks kepemimpinan demokratis. Kepemimpinan transformasional melibatkan pemimpin yang memotivasi, menginspirasi, dan memberdayakan anggota tim untuk mencapai tingkat kinerja yang tinggi dan mengembangkan diri mereka secara pribadi (Djunaedi & Gunawan, 2020). Kepemimpinan demokratis melibatkan partisipasi anggota tim, pengambilan keputusan kolektif, dan pemberdayaan untuk mencapai kinerja yang lebih baik dan meningkatkan kepuasan anggota tim.
Kepemimpinan demokratis menekankan bahwa kekuasaan dalam sebuah organisasi bukan sesuatu yang dimiliki secara eksklusif oleh pemimpin, melainkan sesuatu yang diemban bersama demi tercapainya tujuan kolektif. Dalam praktiknya, pemimpin demokratis tidak hanya meminta pendapat anggota tim sebagai formalitas, tetapi benar-benar menjadikan suara mereka sebagai bahan pertimbangan yang relevan dan berbobot dalam setiap pengambilan keputusan. Sikap ini memunculkan rasa tanggung jawab yang lebih besar di kalangan anggota tim, karena mereka memahami bahwa keputusan yang dihasilkan merupakan cerminan dari kontribusi bersama. Kepemimpinan demokratis juga terbukti berpengaruh positif terhadap kinerja individu maupun tim secara keseluruhan. Ketika anggota merasa dilibatkan dan dihargai, dorongan untuk memberikan hasil terbaik tumbuh secara alami dari dalam diri mereka, bukan semata-mata karena tekanan dari luar.