LOGIN
Media Sosial dan Proyek Diri dalam Modernitas Refleksif
18 January 2026 16:28 WIB 12 Views

Media Sosial dan Proyek Diri dalam Modernitas Refleksif


Oleh: Surti Wardani

Media sosial hari ini tidak lagi sekadar ruang berbagi informasi atau hiburan. Ia telah menjelma sebagai arena utama tempat individu membangun, mempertahankan, dan menampilkan jati dirinya. Dari unggahan keseharian hingga pernyataan sikap, media sosial menjadi panggung di mana identitas diproduksi secara terus-menerus. Fenomena ini dapat dibaca secara kritis melalui pemikiran Anthony Giddens tentang modernitas refleksif, sebuah kondisi ketika identitas diri tidak lagi bersifat stabil dan diwariskan, melainkan harus terus dikelola sebagai sebuah “proyek diri”.

Dalam “Modernity and Self-Identity”, Giddens menjelaskan bahwa masyarakat modern lanjut ditandai oleh meningkatnya refleksivitas. Individu dipaksa secara aktif merefleksikan siapa dirinya, bagaimana ia ingin dipersepsikan, dan ke arah mana hidupnya dijalani. Identitas tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh tradisi atau struktur sosial yang mapan, melainkan dibentuk melalui narasi diri yang berkelanjutan. Media sosial menyediakan ruang yang sangat intens bagi berlangsungnya proyek diri tersebut karena menghubungkan refleksi personal dengan pengakuan publik.

Namun, pengalaman modernitas refleksif ini tidak dialami secara seragam oleh semua generasi. Generasi X, yang tumbuh sebelum dominasi teknologi digital, umumnya membawa kerangka identitas yang relatif lebih stabil. Media sosial bagi mereka lebih sering diposisikan sebagai alat komunikasi dan pemelihara relasi sosial. Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa Generasi X memanfaatkan platform seperti Facebook bukan hanya untuk berinteraksi, tetapi juga untuk aktivitas ekonomi dan penguatan jejaring sosial di tingkat lokal. Temuan ini memperlihatkan bahwa proyek diri Generasi X di media sosial cenderung bersifat fungsional dan adaptif, bukan eksperimental.

Generasi milenial berada di titik transisi modernitas refleksif yang lebih kompleks. Mereka tumbuh bersama media sosial dan mengalami pergeseran identitas dari ruang privat ke ruang publik digital. Media sosial menjadi ruang negosiasi antara keinginan tampil autentik dan kebutuhan akan pengakuan sosial. Studi terbaru di Indonesia menunjukkan bahwa bagi milenial, media sosial telah menjadi sumber utama informasi, termasuk dalam ranah politik dan sosial, menggantikan peran media tradisional. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana proyek diri milenial tidak hanya dibangun melalui ekspresi personal, tetapi juga melalui afiliasi nilai, sikap, dan posisi sosial yang ditampilkan secara daring.

Sementara itu, Generasi Z menghadapi tantangan yang lebih radikal. Mereka lahir dan tumbuh sepenuhnya dalam ekosistem digital yang dikendalikan oleh algoritma. Proyek diri Generasi Z tidak hanya bersifat reflektif, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh sistem kurasi platform. Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa bahasa dan ekspresi digital di media sosial berperan penting dalam pembentukan identitas Generasi Z. Identitas diri dibangun melalui simbol, gaya komunikasi, dan respons audiens, sehingga nilai diri kerap diukur melalui metrik digital seperti likes, views,  dan followers. Dalam istilah Giddens, kondisi ini berpotensi melemahkan “ontological security” atau rasa aman eksistensial.

Dalam konteks Indonesia, dinamika ini menjadi semakin relevan. Media sosial tidak hanya menjadi ruang ekspresi personal, tetapi juga arena ekonomi, budaya, dan politik. Fenomena influencer, budaya pamer gaya hidup, hingga viralitas isu sosial menunjukkan bagaimana proyek diri sering berkelindan dengan logika popularitas dan pasar. Di sisi lain, media sosial juga menjadi ruang artikulasi identitas keagamaan, kedaerahan, dan nasional yang berlangsung cepat dan emosional. Modernitas refleksif di Indonesia tidak sepenuhnya menggantikan tradisi, melainkan bernegosiasi secara intens dengan nilai-nilai lokal yang sudah mengakar.

Di sinilah ambivalensi modernitas refleksif tampak jelas. Media sosial membuka peluang besar bagi kebebasan berekspresi dan pembentukan diri, tetapi sekaligus menciptakan tekanan konstan untuk terus terlihat, relevan, dan diakui. Proyek diri berisiko bergeser dari pencarian makna menjadi sekadar pertunjukan eksistensi. Identitas menjadi rapuh karena bergantung pada validasi eksternal yang cepat berubah.

Dilihat dari kacamata akademik, media sosial seharusnya tidak dipahami hanya sebagai alat komunikasi, tetapi sebagai ruang sosial yang ikut membentuk cara orang melihat dan memahami dirinya sendiri. Dalam pemikiran Anthony Giddens, identitas di era modernitas refleksif adalah proyek yang terus dikerjakan, dan media sosial membuat proses itu berlangsung semakin cepat sekaligus penuh tekanan. Karena itu, pembahasan tentang Generasi X, Milenial, dan Z di media sosial tidak cukup berhenti pada soal kebiasaan atau dampak teknologi semata, tetapi perlu menyentuh kesadaran reflektif tentang bagaimana identitas dibentuk, dipertontonkan, dan dinilai. Perspektif ini penting agar masyarakat tidak terjebak pada sikap menyalahkan atau memuja media sosial secara berlebihan, melainkan mampu menggunakannya secara lebih sadar dan bermakna. Pada titik inilah, penguatan literasi digital nasional, melalui pendidikan formal maupun kebijakan publik, menjadi penting untuk membantu warga memahami media sosial bukan hanya sebagai ruang ekspresi, tetapi juga sebagai ruang refleksi dan tanggung jawab sosial.

Bacaan Rujukan

• Anthony Giddens, “Modernity and Self-Identity” (1991).
Buku klasik yang menjelaskan bagaimana identitas manusia modern dibentuk sebagai “proyek diri” yang terus-menerus direfleksikan.

• Manuel Castells, “The Power of Identity” (2010).
Membahas identitas di era masyarakat jaringan dan relevan untuk memahami peran media sosial dalam kehidupan sosial modern.

• Sherry Turkle, “Alone Together” (2011).

Mengulas hubungan manusia dan teknologi digital, termasuk bagaimana media sosial memengaruhi relasi sosial dan rasa keterhubungan.

 • Istiqomah dkk. (2025), “Jurnal Masyarakat Maritim”.
Penelitian tentang penggunaan media sosial oleh Generasi X di Indonesia, yang menunjukkan media sosial dimanfaatkan secara fungsional dan relasional.

• Audina & Wahyutama (2024), “Jurnal Pendidikan, Teknologi, dan Media”.
Kajian mengenai peran media sosial sebagai sumber informasi dan pembentuk sikap sosial generasi milenial.

• Putri dkk. (2025), “Jurnal Multidisiplin Ilmu Akademik”.
Studi tentang bagaimana bahasa dan ekspresi di media sosial berperan dalam pembentukan identitas Generasi Z di Indonesia.