Oleh:
Surti Wardani
Media sosial hari ini tidak lagi sekadar ruang
berbagi informasi atau hiburan. Ia telah menjelma sebagai arena utama tempat
individu membangun, mempertahankan, dan menampilkan jati dirinya. Dari unggahan
keseharian hingga pernyataan sikap, media sosial menjadi panggung di mana
identitas diproduksi secara terus-menerus. Fenomena ini dapat dibaca secara
kritis melalui pemikiran Anthony Giddens tentang modernitas refleksif, sebuah kondisi
ketika identitas diri tidak lagi bersifat stabil dan diwariskan, melainkan
harus terus dikelola sebagai sebuah “proyek diri”.
Dalam “Modernity and Self-Identity”, Giddens
menjelaskan bahwa masyarakat modern lanjut ditandai oleh meningkatnya refleksivitas.
Individu dipaksa secara aktif merefleksikan siapa dirinya, bagaimana ia ingin
dipersepsikan, dan ke arah mana hidupnya dijalani. Identitas tidak lagi
sepenuhnya ditentukan oleh tradisi atau struktur sosial yang mapan, melainkan
dibentuk melalui narasi diri yang berkelanjutan. Media sosial menyediakan ruang
yang sangat intens bagi berlangsungnya proyek diri tersebut karena
menghubungkan refleksi personal dengan pengakuan publik.
Namun, pengalaman modernitas refleksif ini tidak
dialami secara seragam oleh semua generasi. Generasi X, yang tumbuh sebelum
dominasi teknologi digital, umumnya membawa kerangka identitas yang relatif
lebih stabil. Media sosial bagi mereka lebih sering diposisikan sebagai alat
komunikasi dan pemelihara relasi sosial. Penelitian di Indonesia menunjukkan
bahwa Generasi X memanfaatkan platform seperti Facebook bukan hanya untuk
berinteraksi, tetapi juga untuk aktivitas ekonomi dan penguatan jejaring sosial
di tingkat lokal. Temuan ini memperlihatkan bahwa proyek diri Generasi X di
media sosial cenderung bersifat fungsional dan adaptif, bukan eksperimental.
Generasi milenial berada di titik transisi
modernitas refleksif yang lebih kompleks. Mereka tumbuh bersama media sosial
dan mengalami pergeseran identitas dari ruang privat ke ruang publik digital.
Media sosial menjadi ruang negosiasi antara keinginan tampil autentik dan
kebutuhan akan pengakuan sosial. Studi terbaru di Indonesia menunjukkan bahwa
bagi milenial, media sosial telah menjadi sumber utama informasi, termasuk
dalam ranah politik dan sosial, menggantikan peran media tradisional. Kondisi
ini memperlihatkan bagaimana proyek diri milenial tidak hanya dibangun melalui
ekspresi personal, tetapi juga melalui afiliasi nilai, sikap, dan posisi sosial
yang ditampilkan secara daring.
Sementara itu, Generasi Z menghadapi tantangan yang lebih radikal. Mereka lahir dan tumbuh sepenuhnya dalam ekosistem digital yang dikendalikan oleh algoritma. Proyek diri Generasi Z tidak hanya bersifat reflektif, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh sistem kurasi platform. Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa bahasa dan ekspresi digital di media sosial berperan penting dalam pembentukan identitas Generasi Z. Identitas diri dibangun melalui simbol, gaya komunikasi, dan respons audiens, sehingga nilai diri kerap diukur melalui metrik digital seperti likes, views, dan followers. Dalam istilah Giddens, kondisi ini berpotensi melemahkan “ontological security” atau rasa aman eksistensial.
Dalam konteks Indonesia, dinamika ini menjadi
semakin relevan. Media sosial tidak hanya menjadi ruang ekspresi personal,
tetapi juga arena ekonomi, budaya, dan politik. Fenomena influencer, budaya
pamer gaya hidup, hingga viralitas isu sosial menunjukkan bagaimana proyek diri
sering berkelindan dengan logika popularitas dan pasar. Di sisi lain, media
sosial juga menjadi ruang artikulasi identitas keagamaan, kedaerahan, dan
nasional yang berlangsung cepat dan emosional. Modernitas refleksif di
Indonesia tidak sepenuhnya menggantikan tradisi, melainkan bernegosiasi secara
intens dengan nilai-nilai lokal yang sudah mengakar.
Di sinilah ambivalensi modernitas refleksif tampak
jelas. Media sosial membuka peluang besar bagi kebebasan berekspresi dan
pembentukan diri, tetapi sekaligus menciptakan tekanan konstan untuk terus
terlihat, relevan, dan diakui. Proyek diri berisiko bergeser dari pencarian
makna menjadi sekadar pertunjukan eksistensi. Identitas menjadi rapuh karena
bergantung pada validasi eksternal yang cepat berubah.
Bacaan
Rujukan
•
Anthony Giddens, “Modernity and Self-Identity” (1991).
Buku
klasik yang menjelaskan bagaimana identitas manusia modern dibentuk sebagai
“proyek diri” yang terus-menerus direfleksikan.
•
Manuel Castells, “The Power of Identity” (2010).
Membahas
identitas di era masyarakat jaringan dan relevan untuk memahami peran media
sosial dalam kehidupan sosial modern.
Mengulas
hubungan manusia dan teknologi digital, termasuk bagaimana media sosial
memengaruhi relasi sosial dan rasa keterhubungan.
Penelitian
tentang penggunaan media sosial oleh Generasi X di Indonesia, yang menunjukkan
media sosial dimanfaatkan secara fungsional dan relasional.
•
Audina & Wahyutama (2024), “Jurnal Pendidikan, Teknologi, dan Media”.
Kajian
mengenai peran media sosial sebagai sumber informasi dan pembentuk sikap sosial
generasi milenial.
•
Putri dkk. (2025), “Jurnal Multidisiplin Ilmu Akademik”.
Studi tentang bagaimana
bahasa dan ekspresi di media sosial berperan dalam pembentukan identitas
Generasi Z di Indonesia.