Oleh:
Abdul
Rohim (231010504326)
Reizan
Ahmad Rifky (231010503468)
Siti
Hanifah Zayyan (231010502815)
Stefania
Meo (231010506076)
Virdo
Samardu Silaban (231010502842)
Mahasiswa Universitas Pamulang, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Prodi Manajemen Program Sarjana
Permasalahan
Konflik antara Iran vs Amerika Serikat memberi
pengaruh besar terhadap harga minyak dunia karena wilayah Timur Tengah
merupakan daerah penting dalam produksi dan distribusi minyak global. Banyak
penelitian menjelaskan bahwa ketika terjadi ketegangan politik di kawasan
tersebut, harga minyak biasanya ikut naik karena adanya kekhawatiran terhadap
pasokan minyak dunia. Salah satu hal yang paling berpengaruh adalah kondisi di
Selat Hormuz, yaitu jalur laut yang digunakan untuk pengiriman minyak ke
berbagai negara. Sebagian besar perdagangan minyak dunia melewati wilayah ini
setiap hari. Saat konflik meningkat, muncul kekhawatiran bahwa jalur distribusi
dapat terganggu atau bahkan ditutup sementara. Akibatnya, pasokan minyak ke
pasar internasional menjadi terhambat sehingga memengaruhi jumlah minyak yang
tersedia di dunia.
Selain distribusi, konflik juga berdampak pada proses produksi minyak. Beberapa fasilitas energi di wilayah konflik dapat mengalami kerusakan atau gangguan operasional akibat serangan dan masalah keamanan. Di sisi lain, pembatasan ekspor juga membuat produksi minyak tidak berjalan maksimal. Menurut laporan International Energy Agency (IEA), gangguan politik di negara penghasil minyak dapat menyebabkan penurunan pasokan global dalam waktu singkat. Kondisi ini membuat ketersediaan minyak di pasar dunia berkurang dan menyebabkan harga minyak semakin meningkat.
PERANG ILMIAH
PEMERSATU JEPANG
PEMBANTAIAN KAUM KRISTEN JEPANG
Dampak terhadap Penawaran (Supply) Minyak
Di sisi penawaran konflik ini menyebabkan adanya gangguan distribusi dan produksi minyak dikarenakan adanya ketegangan di selat Hormuz pada maret 2026. Selat Hormuz ini sangatlah vital bagi pergerakan minyak global karena jalur ini mengalirkan pasokan minyak dunia sekitar 20% hingga 25% sehingga memiliki peran strategi yang besar dalam perdagangan energi global (Reuters, 2026). Menurut International Energy Agency (IEA) dalam Oil Market Report April 2026, konflik perang Iran vs Amerika ini mengakibatkan penuruan pasokan minyak sebesar 1,5 juta barel per hari. Penurunan yang signifikat ini menunjukan adanya pergeseran kurva penawaran ke kiri yang mencerminkan berkurangnya jumlah pasokan minyak yang tersedia di pasar global (IEA, 2026).
Selain itu, International Energy Agency (IEA) juga memprediksi bahwa dunia akan mengalami defisit minyak sepanjang tahun 2026 yang diakibatkan perang Iran vs Amerika jika terus berlanjut (IMF, 2026). Hal ini menunjukan bahwa selat ini sangatlah penting bagi pergerakan minyak dunia yang mengakibatkan adanya dampak terhadap penawaran yang tidak hanyak bersifat jangka pendek, namun juga dapat berpotensi berlanjut kedalam jangka menengah.
Dampak terhadap Permintaan (Demand)
Minyak
Dari persepektif permintaan, konflik antara Iran
vs Amerika diperkirakan menimbulkan ketidakpastian ekonomi global yang cukup
besar. Menurut analisis energi dari International Energy Agency (IEA,2024),
ketegangan geopolitik di Kawasan timur tengah cenderung meningkatkan harga
minyak dunia secara signifikan. Kenaikan harga ini membuat beberapa negara
importir mengurangi komsumsi minyak karena biaya energi semakin mahal, sehingga
terjadi penurunan permintaan dalam jangka menengah akibat tekanan inflasi dan
perlambatan aktivitas industry. Selain itu, International Monetary Fund
(IMF,2024) menjelaskan bahwa konflik geopolitik dan lonjakan harga energi dapat
menekan pertumbuhan ekonomi global. Ketika pertumbuhan ekonomi melambat, sektor
industri, transportasi, dan manufaktur akan mengurangi penggunaan energi
berbasis minyak. Hal ini menyebabkan pergerseran kurva permintaan ke kiri
karena turun nya aktivitas ekonomi secara keseluruhan di berbagai negara.
Namun di sisi lain, dalam jangka pendek terjadi peningkatan permintaan spekulatif dan penimbunan stok minyak oleh negara -negara besar untuk menjaga ketahanan energi. Menurut U.S. Energy Information Administration (EIA,2024), kondisi ketidakpastian geo politik biasanya mendorong pembelian tambahan oleh negara dan Perusahaan sebagai Langkah antisipasi. Akibatnya, permintaan minyak justru dapat meningkat sementara sebelum akhirnya menurun Kembali Ketika komsumsi riill menyesuaikan kondisi ekonomi global.
Dampak terhadap Harga Minyak
Konflik antara Iran vs Amerika Serikat
memberikan dampak besar terhadap harga minyak dunia, terutama karena kawasan
Timur Tengah merupakan pusat utama produksi dan distribusi energi global.
Berbagai penelitian dalam jurnal ekonomi energi menunjukkan bahwa ketegangan
geopolitik di wilayah ini cenderung mendorong kenaikan harga minyak akibat
meningkatnya risiko terhadap pasokan. Ketika konflik meningkat, pasar biasanya
merespons dengan cepat melalui kenaikan harga karena adanya kekhawatiran
terhadap terganggunya produksi maupun jalur distribusi, khususnya di wilayah
strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak
dunia.
Selain itu, konflik juga memicu terjadinya supply shock atau gangguan pasokan global yang menyebabkan ketidakseimbangan antara permintaan dan ketersediaan minyak. Tidak hanya itu, harga minyak juga menjadi sangat fluktuatif karena dipengaruhi oleh perkembangan situasi politik dan militer yang berubah dengan cepat, sehingga menciptakan ketidakpastian di pasar energi. Dalam banyak kajian, fenomena ini juga dijelaskan melalui konsep geopolitical risk premium, yaitu kenaikan harga yang terjadi akibat risiko konflik, bahkan sebelum gangguan pasokan benar-benar terjadi. Lebih lanjut, beberapa studi menunjukkan bahwa dampak konflik tidak hanya bersifat sementara, tetapi dapat membuat harga minyak tetap tinggi selama periode ketegangan berlangsung, yang kemudian berimbas pada peningkatan inflasi dan tekanan ekonomi global, khususnya bagi negara-negara yang bergantung pada impor energi.
Analisis Keseimbangan Permintaan-Penawaran
Konflik Iran vs Amerika Serikat tahun 2026 bikin
harga minyak dunia auto naik drastis. Salah satu penyebab utamanya karena jalur
pengiriman minyak di Selat Hormuz sempat terganggu. Padahal, jalur ini penting
banget karena sekitar 20% pasokan minyak dunia lewat situ setiap hari.
Gara-gara konflik, distribusi minyak jadi seret, stok berkurang, dan harga
minyak langsung meroket sampai sekitar 95 dolar per barel. Dampaknya bukan cuma
ke stok minyak, tapi juga ke kebutuhan minyak dunia. Karena harga energi makin
mahal, biaya produksi pabrik, transportasi, sampai kebutuhan sehari-hari ikut
naik. Akhirnya banyak perusahaan dan negara mulai ngirit penggunaan minyak
supaya pengeluaran nggak makin bengkak. Tapi walaupun begitu, kebutuhan energi
tetap tinggi karena industri dan aktivitas ekonomi tetap harus jalan.
Intinya, konflik ini bikin pasar minyak dunia jadi nggak seimbang. Pasokan minyak turun, tapi kebutuhan masih gede, jadi harga tetap mahal. Efek dominonya juga terasa ke mana-mana, mulai dari harga barang yang ikut naik, biaya hidup makin tinggi, rantai pasok terganggu, sampai ekonomi dunia jadi agak “panas”. Makanya, kalau ada konflik di Timur Tengah, vibes ekonomi global langsung ikut tegang.
Inti Sari
Konflik diantara Iran vs Amerika ini menyebabkan
dampak yang sangat besar ke dunia khususnya di pasar minyak global karena
kawasan perang (selat Hormuz) di timur tengah merupakan pusat produksi dan
distribusi energi global. Gangguan pasokan ini menyebabkan jumlah minyak yang
tersedia berkurang sehingga membuat harga minyak meningkat akibat pergeseran
kurva penawaran ke kiri. Kenaikan harga minyak ini menyebabkan beberapa negara
mengalami inflasi dan perlambatan ekonomi yang bisa menurunkan jumlah
permintaan terhadap minyak dalam jangka menengah, meskipun dalam jangka pendek terjadi
peningkatan permintaan akibat penimbunan oleh sebuah negara dan perusahaan. Ketidakseimbangan
ini membuat harga minyak tetap tinggi yang bisa mengakibatkan ke biaya
produksi, rantai pasok, dan stabilitas ekonomi global.
Sumber:
Estrada et al. (2020). Simulations of US-Iran
War and its Impact on Global Oil Price Behavior. Borsa Istanbul Review.
Goldman Sachs Research (2026). How Will the Iran
Conflict Impact Oil Prices.
ICIS (2026). Oil Price Surge and Economic Impact
International Energy Agency. (2026). Oil Market
Report April 2026.
International Energy Agency. (2026). World
Energy Outlook 2026. Paris: IEA.
International Monetary Fund. (2024). World
Economic Outlook: Steady but Slow Growth. Washington, D.C.: IMF.
https://www.imf.org/en/Publications/WEO
International Monetary Fund. (2026). World
Economic Outlook April 2026.
Kompas.com. (2025). Penutupan Selat Hormuz
Berpotensi Timbulkan Harga Minyak Tinggi.
Mezie-Okoye, C. (2025). Israel-Iran Conflict and
Its Impact on Oil Price and Global Economy. ESP International Journal.
nternational Energy Agency. (2024). Oil Market
Report. Paris: IEA. https://www.iea.org/reports/oil-market-report
Orbit Indonesia. (2026). Lonjakan Harga Minyak
Akibat Konflik Iran: Dampak Global.
Reuters. (2026). Iran war upends global oil
market outlook.
SuaraGlobal.id. (2026). Dampak Penutupan Selat
Hormuz: Harga Minyak Dunia Melonjak.
The Guardian. (2026). Oil prices rise and
markets fall after US seizure of ship hits Iran peace deal hopes.
U.S. Energy Information Administration. (2024).
Short-Term Energy Outlook. Washington, D.C.: EIA.
https://www.eia.gov/outlooks/steo
Wikipedia. (2026). 2026 Strait of Hormuz Crisis.