LOGIN
Teori Permintaan-Penawaran: Perang Iran Vs Amerika 2026 (Dampaknya Terhadap Harga Minyak Dan Keseimbangan Permintaan-Penawaran Global)
09 June 2026 15:08 WIB 22 Views

Teori Permintaan-Penawaran: Perang Iran Vs Amerika 2026 (Dampaknya Terhadap Harga Minyak Dan Keseimbangan Permintaan-Penawaran Global)


Oleh:

Abdul Rohim                     (231010504326)
Reizan Ahmad Rifky        (231010503468)
Siti Hanifah Zayyan         (231010502815)
Stefania Meo                    (231010506076)
Virdo Samardu Silaban  (231010502842)

Mahasiswa Universitas Pamulang, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Prodi Manajemen Program Sarjana

Permasalahan
Konflik antara Iran vs Amerika Serikat memberi pengaruh besar terhadap harga minyak dunia karena wilayah Timur Tengah merupakan daerah penting dalam produksi dan distribusi minyak global. Banyak penelitian menjelaskan bahwa ketika terjadi ketegangan politik di kawasan tersebut, harga minyak biasanya ikut naik karena adanya kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia. Salah satu hal yang paling berpengaruh adalah kondisi di Selat Hormuz, yaitu jalur laut yang digunakan untuk pengiriman minyak ke berbagai negara. Sebagian besar perdagangan minyak dunia melewati wilayah ini setiap hari. Saat konflik meningkat, muncul kekhawatiran bahwa jalur distribusi dapat terganggu atau bahkan ditutup sementara. Akibatnya, pasokan minyak ke pasar internasional menjadi terhambat sehingga memengaruhi jumlah minyak yang tersedia di dunia.

Selain distribusi, konflik juga berdampak pada proses produksi minyak. Beberapa fasilitas energi di wilayah konflik dapat mengalami kerusakan atau gangguan operasional akibat serangan dan masalah keamanan. Di sisi lain, pembatasan ekspor juga membuat produksi minyak tidak berjalan maksimal. Menurut laporan International Energy Agency (IEA), gangguan politik di negara penghasil minyak dapat menyebabkan penurunan pasokan global dalam waktu singkat. Kondisi ini membuat ketersediaan minyak di pasar dunia berkurang dan menyebabkan harga minyak semakin meningkat.

PERANG ILMIAH
PEMERSATU JEPANG
PEMBANTAIAN KAUM KRISTEN JEPANG


Dampak terhadap Penawaran (Supply) Minyak 

Di sisi penawaran konflik ini menyebabkan adanya gangguan distribusi dan produksi minyak dikarenakan adanya ketegangan di selat Hormuz pada maret 2026. Selat Hormuz ini sangatlah vital bagi pergerakan minyak global karena jalur ini mengalirkan pasokan minyak dunia sekitar 20% hingga 25% sehingga memiliki peran strategi yang besar dalam perdagangan energi global (Reuters, 2026). Menurut International Energy Agency (IEA) dalam Oil Market Report April 2026, konflik perang Iran vs Amerika ini mengakibatkan penuruan pasokan minyak sebesar 1,5 juta barel per hari. Penurunan yang signifikat ini menunjukan adanya pergeseran kurva penawaran ke kiri yang mencerminkan berkurangnya jumlah pasokan minyak yang tersedia di pasar global (IEA, 2026).

Selain itu, International Energy Agency (IEA) juga memprediksi bahwa dunia akan mengalami defisit minyak sepanjang tahun 2026 yang diakibatkan perang Iran vs Amerika jika terus berlanjut (IMF, 2026). Hal ini menunjukan bahwa selat ini sangatlah penting bagi pergerakan minyak dunia yang mengakibatkan adanya dampak terhadap penawaran yang tidak hanyak bersifat jangka pendek, namun juga dapat berpotensi berlanjut kedalam jangka menengah.

Dampak terhadap Permintaan (Demand) Minyak 
Dari persepektif permintaan, konflik antara Iran vs Amerika diperkirakan menimbulkan ketidakpastian ekonomi global yang cukup besar. Menurut analisis energi dari International Energy Agency (IEA,2024), ketegangan geopolitik di Kawasan timur tengah cenderung meningkatkan harga minyak dunia secara signifikan. Kenaikan harga ini membuat beberapa negara importir mengurangi komsumsi minyak karena biaya energi semakin mahal, sehingga terjadi penurunan permintaan dalam jangka menengah akibat tekanan inflasi dan perlambatan aktivitas industry. Selain itu, International Monetary Fund (IMF,2024) menjelaskan bahwa konflik geopolitik dan lonjakan harga energi dapat menekan pertumbuhan ekonomi global. Ketika pertumbuhan ekonomi melambat, sektor industri, transportasi, dan manufaktur akan mengurangi penggunaan energi berbasis minyak. Hal ini menyebabkan pergerseran kurva permintaan ke kiri karena turun nya aktivitas ekonomi secara keseluruhan di berbagai negara.

Namun di sisi lain, dalam jangka pendek terjadi peningkatan permintaan spekulatif dan penimbunan stok minyak oleh negara -negara besar untuk menjaga ketahanan energi. Menurut U.S. Energy Information Administration (EIA,2024), kondisi ketidakpastian geo politik biasanya mendorong pembelian tambahan oleh negara dan Perusahaan sebagai Langkah antisipasi. Akibatnya, permintaan minyak justru dapat meningkat sementara sebelum akhirnya menurun Kembali Ketika komsumsi riill menyesuaikan kondisi ekonomi global.

Dampak terhadap Harga Minyak 
Konflik antara Iran vs Amerika Serikat memberikan dampak besar terhadap harga minyak dunia, terutama karena kawasan Timur Tengah merupakan pusat utama produksi dan distribusi energi global. Berbagai penelitian dalam jurnal ekonomi energi menunjukkan bahwa ketegangan geopolitik di wilayah ini cenderung mendorong kenaikan harga minyak akibat meningkatnya risiko terhadap pasokan. Ketika konflik meningkat, pasar biasanya merespons dengan cepat melalui kenaikan harga karena adanya kekhawatiran terhadap terganggunya produksi maupun jalur distribusi, khususnya di wilayah strategis seperti Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dunia.
 

Selain itu, konflik juga memicu terjadinya supply shock atau gangguan pasokan global yang menyebabkan ketidakseimbangan antara permintaan dan ketersediaan minyak. Tidak hanya itu, harga minyak juga menjadi sangat fluktuatif karena dipengaruhi oleh perkembangan situasi politik dan militer yang berubah dengan cepat, sehingga menciptakan ketidakpastian di pasar energi. Dalam banyak kajian, fenomena ini juga dijelaskan melalui konsep geopolitical risk premium, yaitu kenaikan harga yang terjadi akibat risiko konflik, bahkan sebelum gangguan pasokan benar-benar terjadi. Lebih lanjut, beberapa studi menunjukkan bahwa dampak konflik tidak hanya bersifat sementara, tetapi dapat membuat harga minyak tetap tinggi selama periode ketegangan berlangsung, yang kemudian berimbas pada peningkatan inflasi dan tekanan ekonomi global, khususnya bagi negara-negara yang bergantung pada impor energi.

Analisis Keseimbangan Permintaan-Penawaran 
Konflik Iran vs Amerika Serikat tahun 2026 bikin harga minyak dunia auto naik drastis. Salah satu penyebab utamanya karena jalur pengiriman minyak di Selat Hormuz sempat terganggu. Padahal, jalur ini penting banget karena sekitar 20% pasokan minyak dunia lewat situ setiap hari. Gara-gara konflik, distribusi minyak jadi seret, stok berkurang, dan harga minyak langsung meroket sampai sekitar 95 dolar per barel. Dampaknya bukan cuma ke stok minyak, tapi juga ke kebutuhan minyak dunia. Karena harga energi makin mahal, biaya produksi pabrik, transportasi, sampai kebutuhan sehari-hari ikut naik. Akhirnya banyak perusahaan dan negara mulai ngirit penggunaan minyak supaya pengeluaran nggak makin bengkak. Tapi walaupun begitu, kebutuhan energi tetap tinggi karena industri dan aktivitas ekonomi tetap harus jalan.

Intinya, konflik ini bikin pasar minyak dunia jadi nggak seimbang. Pasokan minyak turun, tapi kebutuhan masih gede, jadi harga tetap mahal. Efek dominonya juga terasa ke mana-mana, mulai dari harga barang yang ikut naik, biaya hidup makin tinggi, rantai pasok terganggu, sampai ekonomi dunia jadi agak “panas”. Makanya, kalau ada konflik di Timur Tengah, vibes ekonomi global langsung ikut tegang.

Inti Sari
Konflik diantara Iran vs Amerika ini menyebabkan dampak yang sangat besar ke dunia khususnya di pasar minyak global karena kawasan perang (selat Hormuz) di timur tengah merupakan pusat produksi dan distribusi energi global. Gangguan pasokan ini menyebabkan jumlah minyak yang tersedia berkurang sehingga membuat harga minyak meningkat akibat pergeseran kurva penawaran ke kiri. Kenaikan harga minyak ini menyebabkan beberapa negara mengalami inflasi dan perlambatan ekonomi yang bisa menurunkan jumlah permintaan terhadap minyak dalam jangka menengah, meskipun dalam jangka pendek terjadi peningkatan permintaan akibat penimbunan oleh sebuah negara dan perusahaan. Ketidakseimbangan ini membuat harga minyak tetap tinggi yang bisa mengakibatkan ke biaya produksi, rantai pasok, dan stabilitas ekonomi global.

Sumber:
Estrada et al. (2020). Simulations of US-Iran War and its Impact on Global Oil Price Behavior. Borsa Istanbul Review.

Goldman Sachs Research (2026). How Will the Iran Conflict Impact Oil Prices.
ICIS (2026). Oil Price Surge and Economic Impact
International Energy Agency. (2026). Oil Market Report April 2026.
International Energy Agency. (2026). World Energy Outlook 2026. Paris: IEA.
International Monetary Fund. (2024). World Economic Outlook: Steady but Slow Growth. Washington, D.C.: IMF. https://www.imf.org/en/Publications/WEO
International Monetary Fund. (2026). World Economic Outlook April 2026.
Kompas.com. (2025). Penutupan Selat Hormuz Berpotensi Timbulkan Harga Minyak Tinggi.
Mezie-Okoye, C. (2025). Israel-Iran Conflict and Its Impact on Oil Price and Global Economy. ESP International Journal. 
nternational Energy Agency. (2024). Oil Market Report. Paris: IEA. https://www.iea.org/reports/oil-market-report
Orbit Indonesia. (2026). Lonjakan Harga Minyak Akibat Konflik Iran: Dampak Global
Reuters. (2026). Iran war upends global oil market outlook. 
SuaraGlobal.id. (2026). Dampak Penutupan Selat Hormuz: Harga Minyak Dunia Melonjak. 
The Guardian. (2026). Oil prices rise and markets fall after US seizure of ship hits Iran peace deal hopes.
U.S. Energy Information Administration. (2024). Short-Term Energy Outlook. Washington, D.C.: EIA. https://www.eia.gov/outlooks/steo
Wikipedia. (2026). 2026 Strait of Hormuz Crisis.