Krisis ekonomi global tahun 2008 menjadi titik balik bagi pasangan asal Amerika Serikat, Edd dan Cynthia Staton. Ketika karier dan tabungan mereka terdampak Resesi Besar, keduanya mengambil keputusan drastis: pensiun dini dan menetap di luar negeri. Pilihan mereka jatuh pada Cuenca, Ekuador, kota yang menawarkan biaya hidup jauh lebih rendah dibandingkan Amerika Serikat.
Selama 15 tahun terakhir, pasangan tersebut mengaku mampu menjalani gaya hidup kelas atas hanya dengan mengandalkan penghasilan dari Jaminan Sosial. Mereka tinggal di apartemen penthouse modern dengan pemandangan sungai dan pegunungan, rutin makan di restoran, mempekerjakan asisten rumah tangga, sering bepergian, serta masih dapat menyisihkan hingga 20 persen pendapatan untuk tabungan setiap bulan.
Menurut mereka, kepindahan ke wilayah berbiaya rendah memang menjadi faktor penting, namun bukan satu-satunya. Mereka menilai keberhasilan mengelola keuangan juga ditentukan oleh keputusan finansial yang konsisten dan terencana, terutama jika dibandingkan dengan ekspatriat lain di Cuenca yang memiliki anggaran jauh lebih besar namun standar hidup serupa.
Pasangan ini mengungkapkan lima keputusan keuangan utama yang menjadi kunci keberlanjutan gaya hidup mereka. Pertama, mereka memilih tidak memiliki mobil. Dengan tinggal di pusat kota yang ramah pejalan kaki, sebagian besar kebutuhan harian dapat dijangkau dengan berjalan kaki. Biaya transportasi mereka hanya sekitar 25 dolar AS per bulan, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata biaya kepemilikan mobil di Amerika Serikat yang dapat mencapai lebih dari 1.000 dolar AS per bulan.
Kedua, mereka memutuskan untuk menyewa tempat tinggal alih-alih membeli properti. Selain harga sewa yang jauh lebih murah, keputusan ini membebaskan mereka dari beban pajak properti, biaya perawatan, serta risiko perbaikan mendadak. Kepastian pengeluaran bulanan dinilai memudahkan pengelolaan anggaran.
Ketiga, pasangan tersebut lebih memprioritaskan kesehatan dibandingkan pengobatan. Mereka tercatat sebagai peserta sistem kesehatan nasional Ekuador dan tetap mempertahankan Medicare di AS, namun jarang memanfaatkannya. Aktivitas fisik rutin, pola makan sehat, dan gaya hidup aktif disebut mampu menekan biaya perawatan kesehatan secara signifikan.
Keputusan keempat berkaitan dengan pemanfaatan berbagai diskon lansia di Ekuador. Setelah berusia 65 tahun, mereka berhak memperoleh potongan harga hingga 50 persen untuk tiket pesawat domestik dan internasional tertentu, serta diskon pada transportasi umum, layanan telekomunikasi, hiburan, dan pengembalian pajak pertambahan nilai. Meski tidak otomatis, mereka secara aktif mengajukan hak tersebut.
Kelima, mereka memanfaatkan produk simpanan berjangka dengan bunga tinggi yang diasuransikan pemerintah Ekuador. Selama bertahun-tahun, pasangan ini menempatkan dana pada sertifikat deposito dengan imbal hasil di atas 10 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata bunga simpanan di Amerika Serikat.
Menurut mereka, seluruh keputusan tersebut mencerminkan pilihan sadar dalam mengalokasikan sumber daya. Tanpa pengelolaan yang disiplin, gaya hidup ekspatriat dapat dengan mudah menjadi mahal dan tidak berkelanjutan. Mereka menegaskan bahwa pindah ke negara berbiaya rendah dapat menjadi solusi, namun keputusan finansial setelah kepindahan itulah yang pada akhirnya menentukan kualitas hidup di masa pensiun. (AhDi)