LOGIN
Dari “Tanya Rekan Kerja” ke “Tanya AI”: Apakah AI Sedang Mengubah Budaya Komunikasi di Kantor?
Ilustrasi
30 August 2026 14:10 WIB 22 Views

Dari “Tanya Rekan Kerja” ke “Tanya AI”: Apakah AI Sedang Mengubah Budaya Komunikasi di Kantor?


Oleh: Dr. Surti Wardani, S.Sos., M.Si.
Dosen UNPAM Prodi Ilmu Komunikasi S-1

Coba bayangkan situasi sederhana di kantor. Seorang karyawan sedang menyusun email untuk atasannya. Ia ragu memilih kata yang tepat. Dulu, mungkin ia akan bertanya kepada teman di sebelahnya, “Kalau kamu, akan menjawab seperti apa?” Atau ia mencari senior yang dianggap lebih berpengalaman. Sekarang, sebelum bertanya kepada siapa pun, ia mungkin membuka chatbot AI. Beberapa detik kemudian, muncul sebuah jawaban. Bahkan bukan hanya satu. AI bisa menawarkan beberapa pilihan kalimat, memperbaiki tata bahasa, membuatnya lebih formal, lebih persuasif, atau lebih singkat. Praktis? Jelas. Tetapi ada sesuatu yang menarik untuk dipikirkan lebih jauh. Bagaimana jika kebiasaan sederhana “tanya AI dulu” perlahan mengubah cara karyawan berkomunikasi dengan orang-orang di sekitarnya?

Pertanyaan ini semakin relevan karena AI sudah bukan sesuatu yang asing di tempat kerja. Microsoft dan LinkedIn melalui 2024 Work Trend Index mencatat bahwa 92 persen knowledge workers di Indonesia telah menggunakan generative AI di tempat kerja. Angka ini bahkan lebih tinggi daripada rata-rata global yang berada pada 75 persen. Data PwC yang dirilis pada 2026 juga menunjukkan bahwa 69 persen pekerja Indonesia telah menggunakan AI untuk pekerjaannya dalam satu tahun terakhir, meskipun pengguna yang memanfaatkannya setiap hari masih sekitar 16 persen. Jadi, perdebatan tentang AI di kantor sebenarnya sudah bergeser. Bukan lagi sekadar soal apakah karyawan akan menggunakan AI atau tidak. Pertanyaan yang lebih menarik adalah: apa yang terjadi pada komunikasi manusia ketika AI semakin hadir dalam pekerjaan sehari-hari?

SEBERAPA SEJAHTERA HIDUP DI INDONESIA?
NATHAN ROTHSCHILD DAN LAHIRNYA PAX BRITANNICA

Ketika Rekan Kerja Tidak Lagi Menjadi Tempat Bertanya Pertama

Di dalam organisasi, banyak hal penting justru tidak tertulis dalam buku pedoman. Karyawan baru mungkin tahu prosedur resmi mengajukan laporan. Tetapi bagaimana cara menyampaikan laporan itu kepada atasan tertentu? Bagaimana menghadapi klien yang sedang kecewa? Kapan sebaiknya sebuah masalah dibicarakan dalam rapat dan kapan cukup diselesaikan secara informal? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan semacam itu biasanya diperoleh dari manusia lain, baik dari senior, teman satu tim, maupun melalui percakapan kecil setelah rapat atau pengalaman yang dibagikan sambil minum kopi. Inilah sisi komunikasi organisasi yang sering tidak terlihat, tetapi sebenarnya penting dalam membentuk budaya kerja.

AI menghadirkan alternatif baru. Ia cepat, tersedia kapan saja, dan tidak membuat kita merasa sungkan untuk bertanya. Tidak ada rasa malu karena pertanyaannya dianggap terlalu sederhana. Tidak ada kekhawatiran mengganggu pekerjaan rekan. Tidak ada ekspresi wajah yang menunjukkan bahwa pertanyaan kita sudah pernah dijelaskan tiga kali. Karena itu, sangat mungkin AI menjadi tempat pertama untuk bertanya. Dan di sinilah persoalannya mulai menarik. Ketika seorang karyawan bertanya kepada senior, ia tidak hanya mendapatkan jawaban. Ia juga mendapatkan konteks. Ia mungkin mendengar pengalaman pribadi, mengetahui kebiasaan organisasi, atau memahami alasan di balik sebuah keputusan. AI bisa membantu memberikan informasi, tetapi manusia memberikan konteks. Keduanya tidak selalu dapat dipertukarkan.

AI Mulai Masuk ke Tengah Proses Komunikasi

Selama ini kita cenderung melihat komunikasi organisasi sebagai hubungan antarmanusia: karyawan dengan karyawan, bawahan dengan atasan, perusahaan dengan pelanggan, atau organisasi dengan publik. Kehadiran AI membuat pola tersebut menjadi lebih kompleks. Bayangkan seorang karyawan hendak mengirim email kepada atasannya. Ia meminta AI membuat draf. Setelah itu, ia mengirimkan draf tersebut kepada kolega untuk diperiksa. Kolega memberikan masukan. Draf kembali diperbaiki dengan bantuan AI sebelum akhirnya dikirim. Di sini, AI berada di tengah proses komunikasi. Pola yang muncul bukan lagi hanya human-to-human, tetapi dapat berkembang menjadi human → AI → human.

AI memang tidak berbicara menggantikan manusia dalam situasi tersebut. Namun, ia ikut menentukan bagaimana pesan dirumuskan sebelum pesan tersebut diterima oleh manusia lain. Di sinilah AI layak dilihat bukan hanya sebagai alat, tetapi sebagai aktor atau mediator baru dalam komunikasi organisasi. Perspektif ini penting karena sebuah teknologi menjadi menarik bagi ilmu komunikasi ketika ia mulai memengaruhi proses pembentukan dan penyebaran pesan. AI dapat membantu memilih kata, mengubah struktur argumentasi, menyarankan nada komunikasi, bahkan memberikan alternatif cara merespons konflik atau menyampaikan kritik. Dengan demikian, AI secara tidak langsung ikut membentuk komunikasi yang terjadi di dalam organisasi.

Perubahan tersebut bukan sekadar kemungkinan teoretis. Penelitian mengenai penggunaan AI di tempat kerja menunjukkan bahwa teknologi ini dapat menggeser pola kerja dan kolaborasi. Sebuah studi longitudinal terhadap organisasi pengembangan perangkat lunak menemukan bahwa AI terutama digunakan untuk mempercepat pekerjaan individual seperti penulisan, pengodean, dan dokumentasi, sementara persoalan kolaborasi dan komunikasi antarmanusia tidak otomatis terselesaikan. Studi tersebut juga menunjukkan bahwa kehadiran AI ikut membentuk norma baru mengenai efisiensi, transparansi, dan penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.

Siapa yang Sebenarnya Berbicara?

Ada pertanyaan lain yang lebih personal. Ketika AI membantu menulis email seorang karyawan, siapa sebenarnya yang sedang berbicara? Secara formal, tentu saja karyawan tersebut. Nama pengirimnya tetap manusia. Tetapi bagaimana jika hampir seluruh isi pesan dibuat AI? Pertanyaan ini bukan soal boleh atau tidak boleh menggunakan AI. Persoalannya adalah autentisitas.

Komunikasi manusia tidak hanya ditentukan oleh benar atau salahnya sebuah kalimat. Cara seseorang memilih kata juga merupakan bagian dari identitasnya. Ada orang yang komunikasinya lugas, ada yang hati-hati, ada yang hangat, ada yang cenderung menggunakan humor, dan ada pula yang lebih formal. Jika semua orang menyerahkan cara menyusun pesan kepada AI, bukan tidak mungkin komunikasi organisasi menjadi semakin seragam. Email menjadi rapi, laporan menjadi sistematis, dan kalimat menjadi profesional. Namun, apakah komunikasi menjadi lebih personal? Belum tentu.

Kita bahkan mungkin memasuki situasi ketika semua orang terdengar profesional, tetapi semakin sulit mengenali suara manusia di balik pesan tersebut. Fenomena workslop—konten kerja yang dibuat dengan bantuan AI tetapi dianggap kurang substansial sehingga justru menambah pekerjaan bagi rekan kerja—menunjukkan bahwa pesan yang tampak rapi tidak otomatis menghasilkan komunikasi yang efektif. Dalam survei BetterUp terhadap pekerja kantoran di Amerika Serikat, 40 persen responden mengatakan mereka menerima workslop dalam satu bulan terakhir, sementara rata-rata pekerja memperkirakan 15,4 persen pekerjaan yang mereka terima merupakan konten semacam itu.

Karena itu, persoalan penggunaan AI dalam komunikasi bukan sekadar “Apakah kalimat ini bagus?”, tetapi juga “Apakah pesan ini benar-benar mewakili maksud saya?”

Efisien Belum Tentu Lebih Komunikatif

Di sinilah kita perlu berhati-hati terhadap kata “efisiensi”. AI memang membuat banyak pekerjaan komunikasi menjadi lebih cepat. Email dapat dibuat dalam hitungan detik. Dokumen panjang dapat diringkas. Ide dapat dikembangkan. Presentasi dapat disusun lebih cepat. Namun, komunikasi organisasi tidak hanya bertujuan menghemat waktu. Komunikasi juga membangun hubungan.

Ketika seorang karyawan meminta bantuan senior, misalnya, yang terjadi sebenarnya bukan hanya pertukaran informasi. Ada proses pembelajaran, hubungan interpersonal yang terbentuk, dan kepercayaan yang tumbuh. Jika karyawan selalu memilih AI karena lebih cepat, proses sosial tersebut bisa saja berkurang. Bukan berarti setiap pertanyaan harus dikembalikan kepada manusia. Kalau hanya ingin mengetahui format sebuah tabel atau meminta bantuan merapikan kalimat, menggunakan AI justru masuk akal. Masalah muncul ketika AI menjadi pengganti kebiasaan berinteraksi, bukan sekadar alat bantu.

Karyawan baru yang terlalu bergantung pada AI mungkin memperoleh banyak jawaban, tetapi belum tentu memahami “cara kerja” organisasinya. Ia tahu apa yang harus dilakukan, tetapi belum tentu tahu mengapa sesuatu dilakukan dengan cara tertentu. Padahal, budaya organisasi sering kali justru hidup dalam pengetahuan yang tidak tertulis tersebut.

Bukan Berarti Kita Harus Menjauhi AI

Karena itu, solusinya bukan melarang karyawan menggunakan AI. Justru sebaliknya, organisasi perlu mengajarkan cara menggunakan AI secara cerdas dan bertanggung jawab. Yang dibutuhkan bukan hanya AI literacy, tetapi juga literasi komunikasi di era AI—kemampuan memahami bagaimana AI seharusnya digunakan dalam proses komunikasi.

Karyawan perlu tahu kapan AI tepat digunakan, kapan hasilnya harus diverifikasi, informasi apa yang tidak boleh dimasukkan ke dalam sistem AI, dan kapan persoalan sebaiknya dibicarakan dengan manusia. Untuk membuat draf awal, AI sangat membantu. Untuk merangkum dokumen, AI bisa menghemat banyak waktu. Untuk mencari alternatif ide, AI bisa menjadi partner berpikir. Tetapi untuk menyelesaikan konflik, membangun kepercayaan, memberi umpan balik yang sensitif, menghadapi krisis, atau memahami persoalan emosional seorang kolega, manusia tetap memiliki peran yang sulit digantikan.

ILO menempatkan perkembangan AI dalam dunia kerja bukan semata-mata sebagai persoalan teknologi, tetapi juga berkaitan dengan kesetaraan, inklusivitas, kualitas pekerjaan, dan tata kelola yang bertanggung jawab. Dalam konteks Indonesia, ILO juga mendorong dialog mengenai bagaimana AI dapat digunakan untuk menciptakan lingkungan kerja yang adil, inklusif, dan layak. Karena itu, perusahaan perlu memikirkan bukan hanya bagaimana membuat karyawan semakin mahir menggunakan AI, tetapi juga bagaimana memastikan hubungan antarmanusia tetap hidup ketika AI semakin banyak digunakan.

Kantor Tetap Membutuhkan Percakapan Manusia

Ada hal yang mungkin terdengar sepele, tetapi sebenarnya sangat penting: percakapan singkat setelah rapat, pertanyaan kepada senior, diskusi spontan di meja kerja, atau obrolan ketika makan siang. Semua itu mungkin tidak menghasilkan laporan atau indikator produktivitas. Namun, dari sanalah banyak hal terjadi: pengetahuan berpindah, hubungan terbentuk, konflik kecil diselesaikan, dan budaya organisasi dipelajari.

Jangan sampai karena AI membuat pekerjaan semakin cepat, kita kemudian menganggap semua percakapan yang tidak langsung menghasilkan output sebagai pemborosan waktu. Organisasi yang terlalu mengejar efisiensi berisiko lupa bahwa manusia bekerja bukan hanya dengan informasi, tetapi juga dengan relasi. AI dapat membantu kita bekerja lebih cepat, tetapi belum tentu membantu kita menjadi lebih dekat.

Dari “Tanya AI” Kembali ke “Tanya Manusia”

Perdebatan tentang AI di tempat kerja sering dimulai dengan pertanyaan, “Apakah AI akan menggantikan manusia?” Bagi komunikasi organisasi, mungkin ada pertanyaan yang lebih penting: “Apakah AI akan mengubah cara manusia membutuhkan manusia lain?”

Menurut saya, jawabannya sangat mungkin: ya. AI mungkin tidak menggantikan rekan kerja. Tetapi AI dapat mengubah kapan kita membutuhkan mereka, untuk apa kita berbicara dengan mereka, dan bagaimana kita berkomunikasi dengan mereka. Karena itu, keberhasilan penerapan AI di perusahaan tidak cukup dinilai dari berapa banyak pekerjaan yang selesai atau berapa banyak waktu yang dihemat.

Kita juga perlu melihat hal-hal yang lebih sulit diukur. Apakah karyawan masih bertukar pengalaman? Apakah karyawan baru masih belajar dari senior? Apakah orang masih berani bertanya kepada rekan kerja? Apakah diskusi tim masih hidup? Dan yang tidak kalah penting: apakah komunikasi di kantor masih terasa manusiawi?

AI boleh menjadi asisten. AI boleh menjadi partner berpikir. AI bahkan boleh menjadi tempat pertama seorang karyawan mencari jawaban. Tetapi jangan sampai ia menjadi tempat terakhir Sebab mungkin, di tengah semakin canggihnya kecerdasan buatan, salah satu keterampilan komunikasi manusia yang justru semakin penting adalah mengetahui kapan kita membutuhkan jawaban dari mesin dan kapan kita membutuhkan percakapan dengan manusia.

Pada akhirnya, kantor bukan hanya tempat orang menyelesaikan pekerjaan. Kantor adalah tempat manusia bekerja bersama manusia lain. Dan bagian “bersama” itulah yang jangan sampai hilang.

Daftar Rujukan Bacaan

International Labour Organization. (2025, November 20). AI for equality at work in Indonesia: Harnessing technology to create fair, inclusive and decent workplaces.

Microsoft & LinkedIn. (2024, June 11). Microsoft and LinkedIn release the 2024 Work Trend Index on the state of AI at work in Indonesia.

PwC Indonesia. (2026, February 23). Adopsi AI mendongkrak produktivitas, terutama bagi Gen Z. Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025.

BetterUp. (2025, September 29). What is AI workslop? Research on costs and solutions.

Xiao, Q., Hu, X. E., Whiting, M. E., Karunakaran, A., Shen, H., & Cao, H. (2025). AI hasn’t fixed teamwork, but it shifted collaborative culture: A longitudinal study in a project-based software development organization (2023–2025). arXiv.