LOGIN
Perilaku Kelompok Dalam Organisasi: Proses Pembentukan Kelompok Dalam Organisasi
12 June 2026 13:58 WIB 10 Views

Perilaku Kelompok Dalam Organisasi: Proses Pembentukan Kelompok Dalam Organisasi


Oleh:

Ervina Dwi Andini (251010501742)
Muhammad Dhandy Reifanda (251010501774)
Muhammad Rayhan Setyo Nugroho (251010504212)
Sayma Bentari Sandy (251010501754)
Shalsa Frelistyani Putri (251010501751)

Mahasiswa Universitas Pamulang, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Prodi Manajemen Program Sarjana.

Peran Kelompok dalam Organisasi
Modernisasi, mulai dari perusahaan multinasional hingga start-up teknologi, sangat bergantung pada kelompok atau tim sebagai komponen penting untuk menjalankan berbagai aktivitas, seperti inovasi, pengambilan keputusan, dan implementasi strategi. Di era digital saat ini, di mana kerja jarak jauh, proses pembentukan kolaborasi lintas budaya semakin umum, proses pembentukan kelompok menjadi lebih kompleks. Membentuk kelompok bukan sekedar mengumpulkan orang-orang dengan kemampuan tertentu, namun juga memastikan integritas orang-orang yang dibentuk dan memastikan mereka dapat bekerja sebagai tim secara efektif dan tumbuh menjadi tim yang kohesif. Tanpa memahami baik mengenai dinamika ini, organisasi berisiko menghadapi berbagai permasalahan, seperti tingginya tingkat pergantian anggota, menurunnya produktivitas, hingga kegagalan mancapai tujuan yang telah ditetapkan.

JEJAK DUNIA DI KEPULAUAN NUSANTARA
KOMODITAS INDONESIA SEHARGA EMAS
INDIA DIBAWAH MAHKOTA INGGRIS

Peran Kelompok dalam Kehidupan Sosial

Di sisi lain, kelompok memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Kelompok dijadikan sebagai tempat berlindung bagi seseorang untuk melayani berbagai kebutuhan, baik segi ekonomi, maupun jiwa. Melalui kelompok, individu juga dapat mengembangkan potensi dirinya, mencapai aktualisasi diri, serta memperkuat keberadaannya di lingkungan sosial. Kelompok dalam konteks organisasi bukan sekedar kumpulan orang-orang yang direkatkan sebagai satu kesatuan, melainkan suatu kelompok yang mempunyai struktur, pembagian peran, dan hubungan timbal balik yang jelas antara pimpinan dan anggota organisasi.

Kajian Pembentukan Kelompok dalam Organisasi
Seiring dengan berkembangnya kajian-kajian dalam bidang perilaku organisasi, pembahasan mengenai pembentukan kelompok telah banyak dilakukan. Berbagai penelitian mengenai interaksi interpersonal, pola komunikasi, serta budaya organisasi dapat membantu mendefinisikan bagaimana interaksi antar orang dapat mempengaruhi kinerja organisasi dalam satu unit organisasi. Selain itu, ada juga kajian yang membahas faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya kelompok, baik kelompok formal maupun informal, di lingkungan organisasi. Meskipun demikian, pemahaman mengenai bagaimana proses pembentukan kelompok masih perlu diperdalam, terutama dalam menghadapi dinamika organisasi modern yang terus berkembang.

Pengertian Kelompok
Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan selalu terlibat dalam aktivitas kelompok dalam berbagai aspek kehidupan. Secara etimologi, kelompok dalam bahasa Inggris disebut “group”, sedangkan secara terminologi, menurut Robbins dan Coulter, kelompok adalah dua atau lebih individu yang saling berinteraksi dan bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam kehidupan organisasi, kelompok menjadi bagian penting karena terdiri atas individu-individu yang berinteraksi, memiliki hubungan timbal balik, serta bekerja sama dalam satu wadah untuk mencapai tujuan bersama. Kecenderungan manusia untuk membentuk kelompok biasanya didorong oleh adanya kesamaan, seperti tugas pekerjaan, kedekatan tempat, frekuensi pertemuan
 
kesamaan hobi, maupun tujuan yang ingin dicapai. Hal inilah yang membuat manusia secara alami membentuk dan terlibat dalam kelompok sebagai bagian dari kehidupannya.

Pengertian Organisasi
Secara etimologi, organisasi diartikan dengan “organization”. Sedangkan secara terminologi, ada beberapa defenisi mengenai organisasi. Menurut James D. Mooney, organisasi diartikan sebagai “Organization is the from of every human association for the attainment of common purpose”. Organisasi merupakan bentuk dari setiap perserikatan manusia untuk mencapai suatu tujuan secara bersama. (Wursanto, 2005). Menurut Alo Liliweri (2014) organisasi adalah “bentuk kerja sama yang sistemik antara sejumlah orang untuk memenuhi tujuan yang telah ditetapkan bersama. Sedangkan menurut Greenberg dan Baron organisasi adalah, “sistem sosial yang terstruktur terdiri dari kelompok dan individu yang saling bekerja sama untuk mencapai a sasaran yang disepakati atau tujuan yang ingin dicapai (Wibowo, 2013).

Manfaat Kelompok dalam Organisasi
Kelompok dalam organisasi mempunyai manfaat  tertentu baik untuk organisasi maupun anggotanya. Adapun fungsi kelompok bagi individu maupun organisasi adalah:
1. Kelompok sebagai alat utama untuk mengurangi rasa ketidakamanan,kegeli sahan,dan rasa kurang mampu. Para individu merasa lebih perkasa, mengurang rasa keraguan, lebih tahan dari ancaman-ancaman ketika ia merupakan bagian kelompok.
2. Kelompok menjadi alat untuk melakukan tugas-tugas yang kompleks, dan tugas-tugas yang memerlukan saling ketergantungan diantara dua orang atau lebih yang sukar dilakukan secara individual.
3. Kelompok merupakan alat utama pernyataan diri sendiri dan pemilikan pengakuan diri
4. Kelompok menjadi alat bantu memunculkan ide-ide baru atau alat untuk menyelesaikan suatu tugas secara kreatif.

Struktur dalam Kelompok
Dalam hal struktur, beberapa organisasi lebih senang memilih tipe garis atau lini, sementara organisasi lain memilih tipe garis dan staff, tipe, kepanitiaaan atau tipe personal. Dalam manajemen strategis, struktur organisasi (organizational structure) pada hakikatnya merupakan cermin miniature organisasi. Struktur organisasi merupakan proses penetapan struktur peran melalui penentuan kegiatan yang harus ditempuh untuk mencapai visi, misi dan tujuan organisasi serta bagian-bagiannya, pengelompokan aktivitas penugasan kelompok-kelompok aktivitas, pendelegasian wewenang serta pengkoordinasian hubungan-hubungan wewebang dan informasi, baik vertical maupun horizontal secara efektif. Artinya struktur organisasai menentukan bagaimana dibagi, dikelompokkan dan dikoordinasikan secara formal. Strategi dan Struktur organisai sudah banyak di teliti oleh peneliti sebelumnya diantaranya adalah: Robbins-Timothy (2010: 219), Sudarsoso Hardjosoekarto dalam Nasrudin (2010: 163), John, Robert dan Michael (2006: 20).

Teori-teori Pembentukan Kelompok
Interaksi sosial yang terjadi antara dua orang atau lebih menjadikan individu cnderung untuk membuat kelompok-kelompok sesuai dengan kebutuhannya. Firman Allah SWT dalam QS. Al-Hujurat ayat 13, menjelaskan:Artinya: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Al-Hujurat ayat 13).

Teori-teori pembentukan kelompok terdiri atas:
1. Teori kedekatan (Propinquity)
Teori kedekatan menjelaskan tentang adanya aliansi diantara orang-orang tertentu. Seseorang berhubungan dengan orang lain disebabkan adanya kedekatan ruang dan daerahnya.

2. Teori interaksi (George Homans)
Teori interaksi berdasarkan pada aktivitas, interaksi dan seniment (perasaan atau emosi) yang berhubungan secara langsung. teori ini dapat dijelaskan secara langsung. : (a) Semakin banyak aktifitas-aktifitas seseorang dilakukan dengan orang lain (Shared),semakin beraneka interaksi-interaksinya dan juga semakin kuat tumbuhnya sentimen-sentiment mereka. (b) Semakin banyaknya interaksi-interaksi di antara orang-orang, maka semakin banyak kemungkinan aktifitas-aktifitas dan sentiment yang ditularkan (shared) pada orang lain. (c) Semakin banyak aktifitas dan sentimen yang ditularkan pada orang lain dan semakin banyak sentimen seseorang dipahami oleh orang lain, maka semakin bnayak kemungkinan ditularkannya aktifitas dan interaksi-interaksi.

3. Teori Keseimbangan
Teori keseimbangan menyatakan bahwa seseorang tertarik kepada orang lain adalah didasarkan atas kesamaan sikap seperti, agama, politik, gaya hidup, perkawinan,pekerjaan, otoritas didalam mencapai suatu tujuan.

4. Teori Pertukaran
Teori ini ada kesamaan fungsinya denga teori motivasi dalam bekerja. Teori kedekatan, interaksi, keseimbangan, semuanya memainkan peranannya masing-masing. (Jainul Abidin1, Yani Suryani, 2020) Dari beberapa teori dapat disimpulkan bahwa pembentukan kelompok seperti yang diuraikan di atas, dapat kemudian diidentifikasikan karakteristik dari suatu kelompok itu. Menurut Reitz, karakteristik yang menonjol dari suatu kelompok itu, antara lain:
1. Adanya dua orang atau lebih.
2. Berinteraksi satu sama lainnya.
3. Melihat dirinya dari suatu bagian dari kelompok.

Bentuk-bentuk Kelompok
Banyak terdapat beberapa bentuk kelompok. Teori-teori yang mencoba melihat asal mula terbentuknya kelompok seperti yang diuraikan diatas menyatakan betapa banyaknya pola bentuk kelompok tersebut. Sosiolog dan psikolog yang mempelajari prilaku sosial dari orang-orang didalam organisasi mengidentifikasikan beberapa perbedaan dari tipe suatu 
kelompok. Dari perbedaan dan banyaknya bentuk kelompok tersebut, dapat kiranya berikut ini dikemukakan beberapa dari antaranya (Thoha, 2007:85).

1. Kelompok Primer
Seringkali istilah kelompok kecil (small group) dan kelompok primer (primary group) dipakai silih berganti. Secara teknis ada bedanya. Suatu kelompok kecil dijumpai hanya untuk 50 dihubungkan dengan suatu kriteria ukuran jumlah anggota kelompoknya, yakni kecil. Dan pada umumnya tidak diikuti dengan spesifikasi berupa jumlah yang tepat untuk kelompok kecil tersebut. Tetapi kriteria yang dapat diterima ialah bahwa kelompok tersebut haruslah sekecil mungkin untuk berhubungan dan berkomunikasi secara tatap muka. Suatu kelompok kelompok primer haruslah mempunyai suatu perasaan keakraban, kebersamaan, loyalitas, dan mempunyai tanggapan yang sama atas nilai dari para anggotanya. Dengan demikian, semua kelompok primer adalah kelompok yang kecil ukurannya, tetapi tidak semua kelompok kecil adalah primer.

2. Kelompok Formal
Kelompok formal adalah kelompok kerja bentukan yang didefinisikan oleh struktur organisasi dengan penugasan kerja yang sudah ditentukan. Perilaku-perilaku yang harus ditunjukkan di dalam organisasi kelompok ini ditentukan dan diarahkan ke sasaran organisasi (Rahmi,2019).

3. Kelompok Informal
Adapun kelompok informal adalah suatu kelompok yang tumbuh dari proses interaksi, daya tarik, dan kebutuhan-kebutuhan seseorang. Anggota kelompok tidak diatur dan diangkat, keanggotaan ditentukan oleh daya tarik bersama dari individu dan kelompok.

Tahap-Tahap Pembentukan Dan Perkembangan Kelompok
Berdasarkan literatur perilaku organisasi (model Bruce Tuckman), proses ini umumnya melalui 5 tahapan utama berikut:
1. Tahap Pembentukan (Forming)
Tahap awal yang dicirikan oleh tingkat ketidakpastian yang tinggi. Anggota kelompok masih meraba-raba tujuan, struktur, aturan main, dan peran masing-masing dalam organisasi. Pada fase ini, kepemimpinan biasanya bersifat direktif untuk memberikan arahan yang jelas.
2. Tahap Timbulnya Konflik (Storming)
Fase ini ditandai dengan konflik internal dan resistensi. Anggota mulai menunjukkan karakter asli dan bersaing untuk mendapatkan posisi atau mempertahankan ide mereka. Perbedaan pendapat terkait tugas dan batasan wewenang sering terjadi, sehingga kepemimpinan yang suportif sangat dibutuhkan untuk mengelola ketegangan.
3. Tahap normalisasi (norming)
Hubungan antar anggota mulai mencair dan berkembang menjadi kekompakan. Kelompok telah berhasil menetapkan norma, aturan, standar kerja, dan ekspektasi yang disepakati bersama. Solidaritas mulai terbentuk kuat dan identitas kelompok mulai diakui.
4. Tahap berkinerja (performing)
Struktur dan hierarki kelompok telah berfungsi dengan baik dan diterima sepenuhnya. Energi anggota tidak lagi dihabiskan untuk mengelola konflik atau beradaptasi, melainkan difokuskan sepenuhnya pada penyelesaian tugas, pencapaian target organisasi, dan kinerja puncak.
5. Tahap Pembubaran (Adjourning)
Tahap akhir yang berlaku untuk proyek atau tugas yang bersifat sementara. Setelah tujuan tercapai atau proyek selesai, kelompok akan dibubarkan dan anggota akan beralih ke tugas atau tim yang baru dalam organisasi.


Sumber:
Nurrohmah, B., & Ali, H. Literature Review Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Kelompok dalam Organisasi: Struktur dan Strategi Organisasi, Kemampuan Kepemimpinan, Sikap dan Kepuasan Kerja dan Konflik.

Si’in, S., Anwar, K., & Jamrizal. (2024). Perilaku Kelompok Dalam Organisasi. ALADALAH: Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora, 2(2).

Darmawan, Z. S., Baskoro, M. A. P., & Lubur, B. (2020). Analisis Perilaku Kelompok Dalam Organisasi Forum Anti Fitnah dan Hoax (FAFHH). Jurnal Ilmu Komunikasi (J-IKA), 7(1).

Kumara, D. (2018). Strategi pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas pelayanan Perpustakaan Daerah Kota Tangerang Selatan. Journal of Government and Civil Society2(1), 63-87.

Kumara, D., & Ramadhani, S. F. (2023). Analisis Sumber Daya Manusia Dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai Dengan Metode Qspm Pada Kelurahan Lengkong Gudang Timur Di Kota Tangerang Selatan. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan9(13), 754-765.

Mardiah, Syafuidin, M., & Andriani, T. (2023). Perilaku Kelompok Dalam Organisasi. Al-Mujahadah: Islamic Education Journal, 1(1).

Tuckman, B. W. (1965). Developmental sequence in small groups.

Chapman, A. (2001–2013). Forming, storming, norming, performing model.