Oleh:
Ervina Dwi Andini (251010501742)Muhammad Dhandy Reifanda (251010501774)
Muhammad Rayhan Setyo Nugroho (251010504212)
Sayma Bentari Sandy (251010501754)
Shalsa Frelistyani Putri (251010501751)
Mahasiswa Universitas Pamulang, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Prodi Manajemen Program Sarjana.
Peran Kelompok dalam
Organisasi
Modernisasi, mulai
dari perusahaan multinasional hingga start-up teknologi, sangat bergantung pada
kelompok atau tim sebagai komponen penting untuk menjalankan berbagai
aktivitas, seperti inovasi, pengambilan keputusan, dan implementasi strategi.
Di era digital saat ini, di mana kerja jarak jauh, proses pembentukan
kolaborasi lintas budaya semakin umum, proses pembentukan kelompok menjadi
lebih kompleks. Membentuk kelompok bukan sekedar mengumpulkan orang-orang
dengan kemampuan tertentu, namun juga memastikan integritas orang-orang yang
dibentuk dan memastikan mereka dapat bekerja sebagai tim secara efektif dan
tumbuh menjadi tim yang kohesif. Tanpa memahami baik mengenai dinamika ini,
organisasi berisiko menghadapi berbagai permasalahan, seperti tingginya tingkat
pergantian anggota, menurunnya produktivitas, hingga kegagalan mancapai tujuan
yang telah ditetapkan.
JEJAK DUNIA DI KEPULAUAN NUSANTARA
KOMODITAS INDONESIA SEHARGA EMAS
INDIA DIBAWAH MAHKOTA INGGRIS
Peran Kelompok dalam
Kehidupan Sosial
Di sisi lain, kelompok memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Kelompok dijadikan sebagai tempat berlindung bagi seseorang untuk melayani berbagai kebutuhan, baik segi ekonomi, maupun jiwa. Melalui kelompok, individu juga dapat mengembangkan potensi dirinya, mencapai aktualisasi diri, serta memperkuat keberadaannya di lingkungan sosial. Kelompok dalam konteks organisasi bukan sekedar kumpulan orang-orang yang direkatkan sebagai satu kesatuan, melainkan suatu kelompok yang mempunyai struktur, pembagian peran, dan hubungan timbal balik yang jelas antara pimpinan dan anggota organisasi.
Kajian Pembentukan
Kelompok dalam Organisasi
Seiring dengan
berkembangnya kajian-kajian dalam bidang perilaku organisasi, pembahasan
mengenai pembentukan kelompok telah banyak dilakukan. Berbagai penelitian
mengenai interaksi interpersonal, pola komunikasi, serta budaya organisasi
dapat membantu mendefinisikan bagaimana interaksi antar orang dapat
mempengaruhi kinerja organisasi dalam satu unit organisasi. Selain itu, ada
juga kajian yang membahas faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya
kelompok, baik kelompok formal maupun informal, di lingkungan organisasi.
Meskipun demikian, pemahaman mengenai bagaimana proses pembentukan kelompok
masih perlu diperdalam, terutama dalam menghadapi dinamika organisasi modern
yang terus berkembang.
Pengertian Kelompok
Manusia merupakan
makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan selalu terlibat dalam
aktivitas kelompok dalam berbagai aspek kehidupan. Secara etimologi, kelompok
dalam bahasa Inggris disebut “group”, sedangkan secara terminologi, menurut
Robbins dan Coulter, kelompok adalah dua atau lebih individu yang saling
berinteraksi dan bergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan tertentu.
Dalam kehidupan organisasi, kelompok menjadi bagian penting karena terdiri atas
individu-individu yang berinteraksi, memiliki hubungan timbal balik, serta
bekerja sama dalam satu wadah untuk mencapai tujuan bersama. Kecenderungan
manusia untuk membentuk kelompok biasanya didorong oleh adanya kesamaan,
seperti tugas pekerjaan, kedekatan tempat, frekuensi pertemuan kesamaan hobi, maupun
tujuan yang ingin dicapai. Hal inilah yang membuat manusia secara alami
membentuk dan terlibat dalam kelompok sebagai bagian dari kehidupannya.
Pengertian Organisasi
Secara etimologi,
organisasi diartikan dengan “organization”. Sedangkan secara terminologi, ada
beberapa defenisi mengenai organisasi. Menurut James D. Mooney, organisasi
diartikan sebagai “Organization is the from of every human association for the
attainment of common purpose”. Organisasi merupakan bentuk dari setiap perserikatan
manusia untuk mencapai suatu tujuan secara bersama. (Wursanto, 2005). Menurut
Alo Liliweri (2014) organisasi adalah “bentuk kerja sama yang sistemik antara
sejumlah orang untuk memenuhi tujuan yang telah ditetapkan bersama. Sedangkan
menurut Greenberg dan Baron organisasi adalah, “sistem sosial yang terstruktur
terdiri dari kelompok dan individu yang saling bekerja sama untuk mencapai a
sasaran yang disepakati atau tujuan yang ingin dicapai (Wibowo, 2013).
Manfaat Kelompok
dalam Organisasi
Kelompok dalam
organisasi mempunyai manfaat tertentu
baik untuk organisasi maupun anggotanya. Adapun fungsi kelompok bagi individu
maupun organisasi adalah:
1. Kelompok
sebagai alat utama untuk mengurangi rasa ketidakamanan,kegeli sahan,dan rasa
kurang mampu. Para individu merasa lebih perkasa, mengurang rasa keraguan,
lebih tahan dari ancaman-ancaman ketika ia merupakan bagian kelompok.
2. Kelompok
menjadi alat untuk melakukan tugas-tugas yang kompleks, dan tugas-tugas yang
memerlukan saling ketergantungan diantara dua orang atau lebih yang sukar
dilakukan secara individual.
3. Kelompok
merupakan alat utama pernyataan diri sendiri dan pemilikan pengakuan diri
4. Kelompok
menjadi alat bantu memunculkan ide-ide baru atau alat untuk menyelesaikan suatu
tugas secara kreatif.
Struktur dalam
Kelompok
Dalam hal struktur,
beberapa organisasi lebih senang memilih tipe garis atau lini, sementara
organisasi lain memilih tipe garis dan staff, tipe, kepanitiaaan atau tipe
personal. Dalam manajemen strategis, struktur organisasi (organizational
structure) pada hakikatnya merupakan cermin miniature organisasi. Struktur
organisasi merupakan proses penetapan struktur peran melalui penentuan kegiatan
yang harus ditempuh untuk mencapai visi, misi dan tujuan organisasi serta
bagian-bagiannya, pengelompokan aktivitas penugasan kelompok-kelompok
aktivitas, pendelegasian wewenang serta pengkoordinasian hubungan-hubungan
wewebang dan informasi, baik vertical maupun horizontal secara efektif. Artinya
struktur organisasai menentukan bagaimana dibagi, dikelompokkan dan
dikoordinasikan secara formal. Strategi dan Struktur organisai sudah banyak di
teliti oleh peneliti sebelumnya diantaranya adalah: Robbins-Timothy (2010:
219), Sudarsoso Hardjosoekarto dalam Nasrudin (2010: 163), John, Robert dan Michael
(2006: 20).
Teori-teori
Pembentukan Kelompok
Interaksi sosial yang
terjadi antara dua orang atau lebih menjadikan individu cnderung untuk membuat
kelompok-kelompok sesuai dengan kebutuhannya. Firman Allah SWT dalam QS.
Al-Hujurat ayat 13, menjelaskan:Artinya: "Hai manusia, sesungguhnya Kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang
yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Mengenal." (QS. Al-Hujurat ayat 13).
Teori-teori
pembentukan kelompok terdiri atas:
1. Teori
kedekatan (Propinquity)
Teori kedekatan
menjelaskan tentang adanya aliansi diantara orang-orang tertentu. Seseorang
berhubungan dengan orang lain disebabkan adanya kedekatan ruang dan daerahnya.
2. Teori
interaksi (George Homans)
Teori interaksi
berdasarkan pada aktivitas, interaksi dan seniment (perasaan atau emosi) yang
berhubungan secara langsung. teori ini dapat dijelaskan secara langsung. : (a)
Semakin banyak aktifitas-aktifitas seseorang dilakukan dengan orang lain
(Shared),semakin beraneka interaksi-interaksinya dan juga semakin kuat
tumbuhnya sentimen-sentiment mereka. (b) Semakin banyaknya interaksi-interaksi
di antara orang-orang, maka semakin banyak kemungkinan aktifitas-aktifitas dan
sentiment yang ditularkan (shared) pada orang lain. (c) Semakin banyak
aktifitas dan sentimen yang ditularkan pada orang lain dan semakin banyak
sentimen seseorang dipahami oleh orang lain, maka semakin bnayak kemungkinan
ditularkannya aktifitas dan interaksi-interaksi.
3. Teori Keseimbangan
Teori keseimbangan
menyatakan bahwa seseorang tertarik kepada orang lain adalah didasarkan atas
kesamaan sikap seperti, agama, politik, gaya hidup, perkawinan,pekerjaan,
otoritas didalam mencapai suatu tujuan.
4. Teori Pertukaran
Teori ini ada
kesamaan fungsinya denga teori motivasi dalam bekerja. Teori kedekatan,
interaksi, keseimbangan, semuanya memainkan peranannya masing-masing. (Jainul
Abidin1, Yani Suryani, 2020) Dari beberapa teori dapat disimpulkan bahwa
pembentukan kelompok seperti yang diuraikan di atas, dapat kemudian
diidentifikasikan karakteristik dari suatu kelompok itu. Menurut Reitz,
karakteristik yang menonjol dari suatu kelompok itu, antara lain:
1. Adanya dua orang
atau lebih.
2. Berinteraksi satu sama lainnya.
3. Melihat dirinya dari suatu
bagian dari kelompok.
Bentuk-bentuk Kelompok
Banyak terdapat
beberapa bentuk kelompok. Teori-teori yang mencoba melihat asal mula
terbentuknya kelompok seperti yang diuraikan diatas menyatakan betapa banyaknya
pola bentuk kelompok tersebut. Sosiolog dan psikolog yang mempelajari prilaku
sosial dari orang-orang didalam organisasi mengidentifikasikan beberapa
perbedaan dari tipe suatu kelompok. Dari
perbedaan dan banyaknya bentuk kelompok tersebut, dapat kiranya berikut ini
dikemukakan beberapa dari antaranya (Thoha, 2007:85).
1. Kelompok Primer
Seringkali istilah
kelompok kecil (small group) dan kelompok primer (primary group) dipakai silih
berganti. Secara teknis ada bedanya. Suatu kelompok kecil dijumpai hanya untuk
50 dihubungkan dengan suatu kriteria ukuran jumlah anggota kelompoknya, yakni
kecil. Dan pada umumnya tidak diikuti dengan spesifikasi berupa jumlah yang
tepat untuk kelompok kecil tersebut. Tetapi kriteria yang dapat diterima ialah
bahwa kelompok tersebut haruslah sekecil mungkin untuk berhubungan dan
berkomunikasi secara tatap muka. Suatu kelompok kelompok primer haruslah
mempunyai suatu perasaan keakraban, kebersamaan, loyalitas, dan mempunyai
tanggapan yang sama atas nilai dari para anggotanya. Dengan demikian, semua
kelompok primer adalah kelompok yang kecil ukurannya, tetapi tidak semua
kelompok kecil adalah primer.
2. Kelompok Formal
Kelompok formal
adalah kelompok kerja bentukan yang didefinisikan oleh struktur organisasi
dengan penugasan kerja yang sudah ditentukan. Perilaku-perilaku yang harus
ditunjukkan di dalam organisasi kelompok ini ditentukan dan diarahkan ke
sasaran organisasi (Rahmi,2019).
3. Kelompok Informal
Adapun kelompok
informal adalah suatu kelompok yang tumbuh dari proses interaksi, daya tarik,
dan kebutuhan-kebutuhan seseorang. Anggota kelompok tidak diatur dan diangkat,
keanggotaan ditentukan oleh daya tarik bersama dari individu dan kelompok.
Tahap-Tahap
Pembentukan Dan Perkembangan Kelompok
Berdasarkan literatur
perilaku organisasi (model Bruce Tuckman), proses ini umumnya melalui 5 tahapan
utama berikut:
1. Tahap
Pembentukan (Forming)
Tahap awal yang
dicirikan oleh tingkat ketidakpastian yang tinggi. Anggota kelompok masih
meraba-raba tujuan, struktur, aturan main, dan peran masing-masing dalam
organisasi. Pada fase ini, kepemimpinan biasanya bersifat direktif untuk
memberikan arahan yang jelas.
2. Tahap
Timbulnya Konflik (Storming)
Fase ini ditandai
dengan konflik internal dan resistensi. Anggota mulai menunjukkan karakter asli
dan bersaing untuk mendapatkan posisi atau mempertahankan ide mereka. Perbedaan
pendapat terkait tugas dan batasan wewenang sering terjadi, sehingga
kepemimpinan yang suportif sangat dibutuhkan untuk mengelola ketegangan.
3. Tahap normalisasi (norming)
Hubungan antar
anggota mulai mencair dan berkembang menjadi kekompakan. Kelompok telah
berhasil menetapkan norma, aturan, standar kerja, dan ekspektasi yang
disepakati bersama. Solidaritas mulai terbentuk kuat dan identitas kelompok
mulai diakui.
4. Tahap berkinerja (performing)
Struktur dan hierarki
kelompok telah berfungsi dengan baik dan diterima sepenuhnya. Energi anggota
tidak lagi dihabiskan untuk mengelola konflik atau beradaptasi, melainkan
difokuskan sepenuhnya pada penyelesaian tugas, pencapaian target organisasi,
dan kinerja puncak.
5. Tahap
Pembubaran (Adjourning)
Tahap akhir yang
berlaku untuk proyek atau tugas yang bersifat sementara. Setelah tujuan
tercapai atau proyek selesai, kelompok akan dibubarkan dan anggota akan beralih
ke tugas atau tim yang baru dalam organisasi.
Sumber:
Nurrohmah, B., &
Ali, H. Literature Review Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Kelompok dalam
Organisasi: Struktur dan Strategi Organisasi, Kemampuan Kepemimpinan, Sikap dan
Kepuasan Kerja dan Konflik.
Si’in, S., Anwar, K., & Jamrizal. (2024). Perilaku Kelompok Dalam Organisasi. ALADALAH: Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora, 2(2).
Darmawan, Z. S., Baskoro, M. A. P., & Lubur, B. (2020). Analisis Perilaku Kelompok Dalam Organisasi Forum Anti Fitnah dan Hoax (FAFHH). Jurnal Ilmu Komunikasi (J-IKA), 7(1).
Kumara, D. (2018). Strategi pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas pelayanan Perpustakaan Daerah Kota Tangerang Selatan. Journal of Government and Civil Society, 2(1), 63-87.
Kumara, D., & Ramadhani, S. F. (2023). Analisis Sumber Daya Manusia Dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai Dengan Metode Qspm Pada Kelurahan Lengkong Gudang Timur Di Kota Tangerang Selatan. Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, 9(13), 754-765.
Mardiah, Syafuidin,
M., & Andriani, T. (2023). Perilaku Kelompok Dalam Organisasi.
Al-Mujahadah: Islamic Education Journal, 1(1).
Tuckman, B. W. (1965). Developmental sequence in small groups.
Chapman, A.
(2001–2013). Forming, storming, norming, performing model.