LOGIN
Estimasi Peramalan Dan Permintaan Harga Plastik Makin Mahal, UMKM Harus Gimana Menghadapinya?
05 June 2026 21:05 WIB 24 Views

Estimasi Peramalan Dan Permintaan Harga Plastik Makin Mahal, UMKM Harus Gimana Menghadapinya?


Oleh:

Desmiel Sihotang (231010503074)
Hafsah Fajriellah Dars (231010503059)
Nur Allysa Dewanti (231010503097)
Paguwita Richa Amanda (231010503040)
Rima Rahmawati (231010503077)
Tessa Ebrina Sihotang (231010503063)

Mahasiswa Universitas Pamulang, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Prodi Manajemen Program Sarjana

JUALAN NAIK BELUM TENTU UNTUNG NAIK

Kalimat itu sekarang mulai dirasakan banyak pelaku UMKM. Apalagi buat usaha makanan, minuman, laundry, frozen food, sampai online shop yang setiap hari bergantung sama plastik sebagai bagian dari operasional. Dulu mungkin plastik cuma dianggap “pelengkap”. Sekarang? Malah jadi salah satu biaya yang bikin pelaku usaha mikir dua kali. Mulai dari cup minuman, plastik kemasan, standing pouch, bubble wrap, sampai kantong belanja yang harganya pelan-pelan naik. Masalahnya, konsumen maunya harga tetap murah. UMKM pun akhirnya ada di posisi serba salah, ketika harga dinaikin mereka takut pelanggan kabur, tapi kalau harganya dipertahanin keuntungan mereka semakin tipis. Nah, di titik ini, banyak pelaku usaha mulai sadar kalau bisnis bukan cuma soal jualan ramai. Namun juga soal membaca kondisi pasar dengan tepat.

BARU KEMARIN RESTOCK, SEKARANG NAIK LAGI?”: KETIKA BIAYA OPERASIONAL MULAI BIKIN PUSING

Coba tanya deh ke pelaku UMKM sekarang. Banyak yang mulai bilang: “bahan naik”, “kemasan naik”, “ongkir naik”, “stok makin susah diprediksi”. Padahal buat UMKM, perubahan kecil saja bisa langsung terasa besar. Misalnya harga plastik naik Rp500–Rp1.000 per pack. Kalau dipakai terus setiap hari, lama-lama pengeluaran operasional ikut membengkak. Masalahnya bukan cuma soal mahal. Kadang yang bikin lebih sulit justru ketidakpastian pasar. Hari ini ramai, besok sepi, minggu depan tiba-tiba membludak lagi. Makanya banyak bisnis sekarang mulai sadar pentingnya membaca pola permintaan konsumen sebelum ambil keputusan produksi atau stok barang. Penelitian tentang peramalan permintaan menunjukkan bahwa perubahan permintaan pasar yang tidak stabil bisa menyebabkan stok berlebih atau malah kekurangan stok, yang pada akhirnya berdampak pada kerugian usaha.

JUALAN RAMAI BELUM TENTU AMAN

Kadang yang bikin pelaku usaha senang itu bukan keuntungan besar. Namun karena: “yang penting ramai dulu.” Padahal ramai belum tentu efisien. Banyak UMKM yang akhirnya terlalu banyak stok karena merasa permintaan bakal terus tinggi. Ujung-ujungnya barang numpuk, kemasan kebuang, dan modal ketahan. Di sisi lain, ada juga yang stoknya terlalu sedikit karena takut rugi. Waktu pesanan naik mendadak, malah kewalahan sendiri. Nah, kondisi kayak gini sebenarnya sering dibahas dalam ekonomi manajerial, khususnya soal estimasi dan peramalan permintaan.

YANG TERBAIK PERGI LEBIH AWAL..

DINASTI BISNIS TERKUAT

Sederhananya, bisnis perlu belajar membaca: kapan permintaan naik, kapan pasar mulai turun, produk mana yang paling sering dicari, sampai kebiasaan konsumen tiap periode tertentu. Karena kalau semua keputusan cuma berdasarkan “feeling”, risikonya juga semakin besar.

YANG LAGI LAKU DIPRODUKSI BANYAK!: STRATEGI ATAU PANIK?

Kadang pelaku usaha juga suka spontan. Mereka lihat produk lagi viral terus langsung produksi banyak. Ketika lihat kompetitor ramai mereka langsung ikut jualan yang sama. Padahal tren pasar belum tentu bertahan lama. Fenomena kayak gini sering bikin UMKM terlalu fokus ngejar momentum tanpa benar-benar menghitung risiko operasionalnya. Akhirnya? stok numpuk, modal muter lebih lambat, dan pengeluaran semakin besar.

Penelitian tentang forecasting menjelaskan bahwa peramalan membantu bisnis memprediksi kebutuhan pasar berdasarkan data sebelumnya supaya keputusan produksi tidak dilakukan secara asal. Ibaratnya kayak masak buat tamu. Kalau tamunya cuma 10 orang tapi masaknya buat 50 orang, ya akhirnya banyak yang kebuang. Bisnis juga begitu.

UMKM SEKARANG NGGAK CUKUP MODAL NEKAT

Dulu mungkin usaha cukup jalan pakai modal semangat. Sekarang berbeda karena persaingan semakin ramai. Harga bahan gampang berubah, konsumen juga semakin sensitif soal harga. Makanya banyak UMKM mulai belajar: mengatur stok, membaca pola penjualan, menghitung pengeluaran, sampai memprediksi permintaan pasar. Bukan berarti bisnis harus ribet seperti perusahaan besar. Namun minimal pelaku usaha mulai ngerti: produk mana yang paling cepat habis, jam ramai penjualan, musim paling tinggi permintaan, dan kapan harus mengurangi stok. Beberapa riset pasar menunjukkan bahwa peramalan yang tepat dapat membantu bisnis mengoptimalkan persediaan dan meningkatkan efisiensi operasional usaha.

ANTARA BERTAHAN ATAU BERADAPTASI?

Kenaikan harga plastik memang bukan masalah kecil buat UMKM. Namun di sisi lain, kondisi ini juga bikin banyak pelaku usaha mulai lebih sadar pentingnya strategi bisnis. Ada yang mulai beralih ke kemasan ramah lingkungan. Ada yang mengurangi penggunaan plastik berlebih. Ada juga yang mulai lebih hati-hati mengatur stok dan produksi. Karena pada akhirnya, bisnis yang bertahan bukan selalu yang paling besar modalnya. Kadang justru yang paling cepat beradaptasi. Apalagi di tengah kondisi ekonomi yang terus berubah, kemampuan membaca permintaan pasar bisa jadi pembeda antara usaha yang berkembang atau pelan-pelan tertinggal.

ADAPTASI JADI KUNCI

Harga plastik yang makin mahal memang jadi tantangan baru buat UMKM melihat banyak bahan baku juga sudah naik. Masalahnya bukan cuma itu, tapi bagaimana pelaku usaha harus pintar membaca kondisi pasar supaya usaha tetap terlaksana tanpa menaikkan pengeluaran.

Ditengah permintaan konsumen yang fluktuatif, UMKM sekarang tidak bisa hanya mengandalkan nekat atau ikut tren. Perlu banyak perhitungan seperti mengatur stok, membaca pola penjualan, hingga memperkirakan permintaan pasar agar keputusan bisnis menjadi lebih tepat. Karena pada akhirnya, usaha yang dapat bertahan bukan selalu yang paling besar, kadang justru yang paling cepat belajar, paling fleksibel, dan paling siap beradaptasi dengan perubahan.

Sumber:

Auliasari, K., Kertaningtyas, M., & Kriswantono, M. (2019). Penerapan metode peramalan untuk identifikasi potensi permintaan konsumen. Informatics Journal, 4(3), 121-129.

Hendajani, F., Wardhani, I. P., Widayati, S., & Soegijanto, S. (2022). Data analisis permintaan barang dengan metode peramalan. EKOMABIS: Jurnal Ekonomi Manajemen Bisnis, 3(02), 169-180.

Nofiyanto, A., Nugroho, R. A., & Kartini, D. (2015). Peramalan Permintaan Paving Blok dengan Metode ARIMA. Proceedings Konferensi Nasional Sistem dan Informatika (KNS&I).

Taufikurrahman, M. Z., Arifianti, R., & Hakim, R. M. A. (2024). Analisis Peramalan Permintaan Bensin Pertamax Menggunakan Metode Time-Series Forecast Pada Pt. Zindan Utama Jaya Pada Tahun 2024. Jurnal Lentera Bisnis, 13(3), 1653-1666.

Widyasari, R. P., Palahudin, P., Anggraeni, S., Jamil, N., Pratama, N. W., & Ridwansyah, M. (2025). Penerapan Metode Peramalan (Forecasting) Pada Permintaan Donat Di Donat Madu Cihanjuang, Cabang Gunung Batu. Jurnal Manajemen Dan Profesional, 6(2), 107-120.

Wijayanti, E., & Rosydi, K. (2019). Peramalan Permintaan Dengan Pendekatan Time Series Dan Perencanaan Produksi Agregat. JKIE (Journal Knowledge Industrial Engineering), 6(2), 75-80.