Oleh:
Michael Wiranto Tampubolon (231010505202)
Anisa Salsabila (231010503032)
Dela Afi Nurain (231010503075)
Nadya
Oktaviani(231010503092)
Siti Ambarwati(231010504102)
Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Ekonomi dan Bisnis Prodi Manajemen Program Sarjana
Kenalan Dulu: Elastisitas Harga Itu Apaan Sih?
Elastisitas harga itu gampangnya kayak
"tingkat baper" pelanggan sama perubahan harga. Rumusnya: kalau harga
berubah 1%, permintaan ikut berubah berapa %. Kalau naik 10% tapi penjualan
anjlok 30%, berarti produk kamu super elastis alias gampang ditinggal. Kalau
naik 10% penjualan cuma turun 2%, berarti inelastis alias produk kamu strong
banget. Kenapa penting? Karena ini fondasi semua strategi pricing. Salah baca
elastisitas, bisa boncos. Kamu kira naikin harga dikit nambah untung, eh malah
sepi pembeli.
Tim Elastis vs Tim Inelastis: Produk Kamu Masuk Mana?
Yuk tes kepribadian produk kamu.
Tim Elastis cirinya banyak substitusi, bukan
kebutuhan primer, gampang dibandingin. Contohnya kopi kekinian, baju, skincare,
snack. Sekali ada yang lebih murah atau viral, pelanggan langsung pindah
haluan. Strategi buat tim ini main volume, sering-sering promo, jaga harga
kompetitif. Sementara Tim Inelastis cirinya kebutuhan pokok, susah dicari
gantinya, atau udah cinta mati sama brand. Contohnya bensin, obat resep, beras,
langganan internet, iPhone buat fanboy. Strategi buat tim ini lebih fokus ke
value & loyalitas, margin bisa lebih tebal, dan diskon gak perlu barbar.
Cara ngetes paling gampangnya bisa dengan cek
data penjualan 3 bulan terakhir pas kamu mainin harga, atau bikin survei kecil,
"Kalau naik 5rb masih beli gak?
Bahaya Harga Naik: Kenapa
Pelanggan Bisa Langsung Ghosting
Ini red flag buat produk elastis. Pelanggan
zaman sekarang gak pake basa-basi, sekali ngerasa kemahalan, langsung scroll
Tokopedia nyari yang mirip. Tanda-tanda
produkmu gak kuat dinaikin harga bisa dilihat dengan kompetitor
bejibun, fitur kamu sama aja kayak yang lain, pelanggan gak punya ikatan
emosional sama brand kamu.
Efek domino nya ngeri, penjualan bisa turun, stok numpuk, cashflow seret, terus panik banting harga, ujungnya perang harga sama kompetitor dan semua rugi. Jadi sebelum naikin, pastiin dulu produkmu punya "alasan" biar tetep dibeli walau lebih mahal. “Cheat Code Pricing” kamu harus tau kapan harus diskon, dan kapan berani naikin. Ini rules of the game nya, kapan gas diskon? produk kamu elastis, mau ngabisin stok lama, lagi mau akuisisi pelanggan baru, atau pas high season kayak 11.11. Diskon di produk elastis itu kayak bensin buat roket, penjualan bisa naik drastis dan nutupin margin yang tipis. Dan kapan berani naikin harga? produk kamu inelastis, biaya produksi beneran naik, kamu baru nambah value/fitur baru, atau demand lagi tinggi banget, pelanggan inelastis lebih nerima karena mereka butuh atau udah percaya. Pro tip: jangan diskon terus, nanti pelanggan malah nunggu diskon baru beli, kasih juga "naik harga cantik", misalnya naik 3% tapi bonusnya kerasa.
MEREKA YANG MENGUASAI ANTARIKSA
DARI EMPATI KE EKSPOSUR
QUIET QUITTING
Main Cantik: Trik Bundling & Value Biar Gak
Perang Harga
Capek kan kalau tiap hari harus mikir "murahin lagi apa ya"? Saatnya glow up biar gak kejebak perang harga. Strategi yang bisa dicoba adalah Bundling gabungin produk elastis sama yang inelastic, contohnya beli printer dapat tinta, atau "Paket Ngopi WFA" isinya kopi + croissant. Pelanggan jadi susah bandingin harga satuan sama kompetitor. Selain itu, ada juga Value Hack: tambahin hal yang gak nguras modal tapi kerasa mahal, kayak garansi lebih panjang, after-sales gercep, packaging estetik, kartu ucapan tulis tangan, atau komunitas eksklusif buat buyer.
Tujuannya bikin pelanggan mikir "Worth it sih segini" bukan "Mahal banget". Kalau value kamu kuat, elastisitas produk jadi turun. Pelanggan jadi gak sensitif lagi sama harga karena yang mereka beli itu experience, bukan cuma barang.
Sumber:
Kotler, P., & Keller, K. L. (2016).
Manajemen Pemasaran (Edisi ke-15). Jakarta: Erlangga.
Kumara, D. (2018). Strategi pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas pelayanan Perpustakaan Daerah Kota Tangerang Selatan. Journal of Government and Civil Society, 2(1), 63-87.
Mankiw, N. G. (2018). Principles of Economics
(8th ed.). Boston: Cengage Learning.
Pindyck, R. S., & Rubinfeld, D. L. (2018).
Microeconomics (9th ed.). New Jersey: Pearson Education.
Sukirno, S. (2016). Mikroekonomi: Teori
Pengantar (Edisi ke-3). Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Tjiptono, F. (2015). Strategi Pemasaran (Edisi
ke-4). Yogyakarta: Andi Offset.
Utami, C. W. (2017). Manajemen Ritel: Strategi
dan Implementasi Operasional Bisnis Ritel Modern di Indonesia. Jakarta: Salemba
Empat.