LOGIN
Fasih Berdialog dengan AI, Gagap Berbicara dengan Manusia: Alarm bagi Kajian Komunikasi
12 July 2026 08:13 WIB 49 Views

Fasih Berdialog dengan AI, Gagap Berbicara dengan Manusia: Alarm bagi Kajian Komunikasi


Oleh: Surti wardani 

Coba perhatikan sekeliling. Ada mahasiswa yang bisa "ngobrol" dengan ChatGPT selama berjam-jam, membahas skripsi, curhat soal kecemasan masa depan, bahkan berdebat isu politik dengan runtut dan percaya diri. Tapi begitu ia diminta maju presentasi, atau sekadar beradu argumen dengan teman satu kelompok, tiba-tiba lidahnya kelu. Kata-kata yang tadi lancar keluar di kolom chat, entah ke mana perginya. Ia lebih memilih diam.

Kalau ini terdengar familiar, mungkin bukan kebetulan. Pertanyaannya sederhana tapi cukup mengganggu: jangan-jangan kita sedang membesarkan generasi yang piawai berbahasa dengan mesin, tapi justru asing dan gagap saat berhadapan dengan sesama manusia? Saya kira kemudahan "berdialog" dengan AI ini bukan hal yang netral-netral saja. Ia diam-diam mengikis kapasitas mahasiswa untuk berkomunikasi secara langsung, tatap muka, dengan segala kecanggungan dan empati yang menyertainya. Ini bukan sekadar catatan kaki dalam diskusi soal etika AI di kampus. Ini alarm yang seharusnya didengar serius oleh kajian Ilmu Komunikasi.

Fenomena ini tidak datang begitu saja. Bagi banyak mahasiswa sekarang, AI bukan lagi cuma alat bantu tugas kuliah. Ia sudah bergeser jadi semacam teman diskusi, tempat pelarian ketika tekanan menumpuk, bahkan pengganti curhat yang dulu biasanya jatuh ke teman dekat atau dosen pembimbing. Alasannya masuk akal kalau dipikir-pikir: AI tidak pernah menghakimi. Selalu ada, kapan pun dibutuhkan, jam dua pagi sekalipun. Tidak ada risiko sosial seperti rasa malu atau ditolak. Responsnya cepat, rapi, terstruktur. Bandingkan dengan komunikasi antar manusia yang penuh friksi ada keheningan yang harus ditahan, bahasa tubuh yang harus dibaca, dan risiko emosional setiap kali kita benar-benar membuka diri ke orang lain. Tidak aneh kalau AI, dengan segala kenyamanan itu, pelan-pelan menggeser ruang yang dulunya diisi interaksi manusia.

Di titik inilah kajian komunikasi sebenarnya punya banyak hal untuk ditawarkan. Komunikasi nonverbal, ekspresi wajah, intonasi, gestur sama sekali absen saat seseorang "mengobrol" dengan AI berbasis teks. Padahal isyarat-isyarat semacam itu selama ini jadi tulang punggung bagaimana manusia membangun kedekatan dan saling memahami. Media richness theory bisa dipinjam untuk menjelaskan ini: semakin miskin suatu media dari isyarat sosial, semakin ia gagal menggantikan peran tatap muka, apalagi untuk urusan yang rumit atau sarat emosi. Ada juga social presence theory, yang bicara soal rasa "kehadiran" lawan bicara yang nyaris nol dalam interaksi dengan AI, meski responsnya bisa terasa personal dan hangat. Yang menarik, riset dua tahun terakhir ramai membahas AI dari sisi tugas kuliah dan etika akademik, tapi hampir tidak ada yang menyentuh soal yang lebih mendasar ini: bagaimana kebiasaan "berdialog" dengan AI justru bisa memundurkan kompetensi interpersonal mahasiswa sendiri.

Kalau dibiarkan tanpa disadari, taruhannya cukup besar. Yang paling kelihatan adalah menurunnya rasa percaya diri untuk bicara langsung, mahasiswa yang lancar menyusun prompt argumentatif, tapi mendadak kehilangan arah saat harus berargumen di forum sungguhan. Ada juga yang lebih halus tapi mungkin lebih berbahaya: menurunnya toleransi terhadap ketidaknyamanan sosial. Ketika seseorang terbiasa dengan lawan bicara yang selalu "aman" tidak pernah membantah dengan nada tinggi, tidak pernah membuat suasana canggung, ia bisa jadi makin menghindari dari konflik atau perbedaan pendapat. Padahal justru di situlah esensi komunikasi publik yang sehat berada. Dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat tidak akan pernah berhenti menuntut komunikasi tatap muka, negosiasi, dan empati yang hadir secara langsung. Kompetensi seperti ini tidak bisa dilatih hanya lewat percakapan dengan chatbot, secanggih apa pun ia.

Tapi saya tidak mau terjebak sikap naif yang menyalahkan teknologi begitu saja. AI punya sisi baik yang tidak bisa diabaikan. Ia bisa jadi ruang aman untuk berlatih dulu sebelum benar-benar berkomunikasi dengan orang lain, terutama bagi mahasiswa yang memang bergumul dengan kecemasan sosial. Menyusun pikiran bersama AI sebelum menyampaikannya ke manusia, itu bukan masalah, bahkan bisa jadi strategi yang cukup sehat. Yang perlu diwaspadai bukan AI-nya. Yang perlu diwaspadai adalah pola ketergantungan yang berkembang tanpa disadari, saat AI yang semula dimaksudkan sebagai jembatan menuju interaksi manusia, diam-diam berubah jadi pengganti bagi interaksi itu sendiri.

Karena itu, sudah waktunya kajian Ilmu Komunikasi memperlakukan isu ini lebih serius. Bukan sekadar diselipkan sebagai sub-bab kecil dalam pembahasan etika AI, tapi didudukkan sebagai isu inti dari kompetensi komunikasi mahasiswa hari ini. Fasih menyusun kalimat untuk mesin, tidak sama dengan mahir berbicara kepada manusia. Barangkali, di tengah kemudahan berdialog dengan AI yang makin meluas ini, yang paling dibutuhkan mahasiswa sekarang justru keberanian untuk sengaja "melatih ulang" dirinya bicara langsung menatap mata, menahan keheningan, dan menerima risiko emosional dari percakapan yang benar-benar manusiawi. Sebab pada akhirnya, secanggih apa pun AI bicara, ia tidak akan pernah bisa menggantikan kehadiran manusia lain di hadapan kita.