Oleh:
Adelia
Wirasti (231010506086)
Ania
Meita Puspita (231010504418)
Difa
Hanifah Rohimat (231010504320)
Feny
Ferawati (231010505656)
Mahasiswa Unibersitas Pamulang, Prodi Manajemen
Setiap pelaku bisnis pasti ingin satu hal: untung sebesar-besarnya. Keuntungan yang stabil dan optimal bukan cuma menolong perusahaan bertahan, tapi juga bikin mereka bisa tumbuh lebih besar, bersaing lebih agresif, dan menarik investor. Tapi, keuntungan itu nggak selalu datang dari dalam. Kadang, masalah justru datang dari luar perusahaan—sesuatu yang nggak bisa dikendalikan secara langsung. Sekarang, banyak orang memperhatikan Selat Hormuz. Pernah dengar? Ini jalur utama pengiriman minyak dunia dari Timur Tengah, penting banget untuk pasar energi global. Begitu ada konflik atau situasi panas di sana, efeknya cepat terasa, bukan cuma di negara yang terlibat, tapi juga ke perusahaan-perusahaan lain di belahan dunia mana pun. Perubahan global kayak gini sifatnya liar—kadang bikin biaya operasional naik, rantai pasok terganggu, dan akhirnya, sulit untuk ngejar untung. Makanya, penting untuk paham gimana situasi di Selat Hormuz bisa berimbas pada upaya perusahaan meraih keuntungan setinggi-tingginya.
Ketegangan di Selat Hormuz sebagai Ancaman
Bisnis dari Luar
Letak Selat Hormuz strategis banget di peta
perdagangan dunia. Hampir semua ekspor minyak dan gas dari negara Teluk Persia
melewati selat ini sebelum dikirim keluar. Karena kepentingannya besar, sekecil
apa pun gangguan pasti bikin pasar energi kacau. Waktu situasi politik memanas,
biasanya harga minyak langsung melonjak. Banyak pihak khawatir pasokan bakal
macet. Buat perusahaan, kondisi ini udah masuk kategori “faktor
eksternal”—nggak bisa dikontrol sendiri, tapi efeknya tetap terasa dalam bentuk
biaya operasional yang naik dan kondisi pasar yang berubah. Pelaku bisnis
sekarang wajib melek situasi. Kalau mereka tutup mata pada politik dan ekonomi
dunia, keputusan yang diambil soal bisnis bisa-bisa malah tekor karena
kehilangan konteks.
Harga Energi Naik, Biaya Produksi Ikut
Terdongkrak
Dampak paling nyata dari memanasnya Selat Hormuz
adalah melonjaknya harga energi. Kalau minyak naik, ongkos produksi dan
distribusi pun merangkak. Gampangnya, perusahaan manufaktur butuh energi buat
produksi barang. Perusahaan logistik, jelas, sehari-hari nggak bisa lepas dari
bahan bakar. Kalau semuanya serba mahal, margin laba bisa tipis, bahkan
terkikis habis jika nggak ada upaya perampingan yang serius. Di tengah kenaikan
biaya, perusahaan punya dua pilihan pahit. Pertama, naikkan harga produk supaya
ongkos tertutup—tapi risiko kehilangan konsumen terbuka lebar. Kedua, menahan
harga, tapi laba malah tiris. Sulit memang. Belum lagi, kenaikan harga energi
sering nular ke kenaikan harga kebutuhan hidup sehari-hari. Orang-orang jadi
hemat, permintaan barang dan jasa pun turun. Ujungnya, omzet perusahaan ikut
turun—apalagi buat barang non-prioritas.
Bisnis sekarang jarang berjalan sendiri. Banyak perusahaan mengandalkan bahan baku atau distribusi lintas negara. Kalau jalur perdagangan terganggu gara-gara Selat Hormuz memanas, pengiriman bisa molor dan biaya logistik melonjak. Kadang, perusahaan akhirnya terpaksa cari pemasok baru—nggak selalu lebih murah, bahkan kerap lebih mahal—biaya produksi pun tambah berat. Kalau perencanaan nggak matang, stok bahan baku telat, proses produksi terhambat, dan akhirnya konsumen kecewa. Dari situ, peluang untung ikut menurun.
Jurus Ampuh Memaksimumkan Untung di Tengah
Ketidakpastian
Biar dunia luar sering bikin repot, masih ada
cara supaya perusahaan tetap untung. Pertama, efisiensikan operasional—cari pos
biaya yang bisa dipangkas tanpa mengorbankan kualitas. Walau harga bahan baku,
listrik, atau logistik naik, memangkas biaya-biaya yang nggak penting bisa
tetap menjaga profit. Strategi lain yang jitu: diversifikasi pemasok. Jangan
cuma bergantung pada satu jalur atau satu pemasok. Kalau punya beberapa opsi,
resiko gangguan pasokan bisa ditekan. Pilihan ini jelas bikin perusahaan lebih
tahan banting waktu ada gejolak. Teknologi juga jangan disepelekan. Saat ini,
digitalisasi, manajemen data yang lebih rapih, bahkan otomatisasi produksi,
semuanya bisa bikin biaya turun dan produktivitas naik. Efisiensi pun jalan
terus meski kondisi di luar lagi nggak menentu. Satu lagi yang harus diingat:
manajemen risiko. Waspadai ancaman-ancaman eksternal tapi jangan cuma nunggu
masalah datang. Lebih baik siapkan langkah antisipasi sebelum bencana
benar-benar bikin kacau.
Siapa sangka, di tengah ketidakpastian, masih ada kesempatan buat untung? Naiknya harga energi bikin orang dan perusahaan berlomba cari alternatif yang lebih hemat. Bisnis yang bergerak di energi terbarukan, efisiensi energi, atau teknologi digital justru terbuka lebar peluangnya. Bisnis yang jeli menangkap kebutuhan pasar dan cepat beradaptasi, biasanya bisa melaju lebih cepat dari kompetitornya. Melihat peluang di tengah tantangan, itulah kuncinya supaya tetap untung, bahkan dalam situasi sulit.
Jelas banget, ketegangan di Selat Hormuz bukan cuma urusan politik antarnegara, tapi juga berdampak langsung ke bisnis global. Harga energi melonjak, biaya meningkat, rantai pasok bisa macet, ketidakpastian ekonomi pun tambah besar. Tetapi, perusahaan tetap bisa bertahan—bahkan bertumbuh—asal tahu cara beradaptasi. Kuncinya: efisiensi operasional, diversifikasi pemasok, pemanfaatan teknologi, dan manajemen risiko yang matang. Jangan cuma mikirin urusan dalam perusahaan, tapi pandai-pandailah membaca situasi di luar. Jadi, untuk memaksimumkan keuntungan di era globalisasi ini, perusahaan wajib peka terhadap dinamika dunia luar, bukan melulu fokus ke dalam saja.
Sumber Referensi:
Li, F., Yang, C., Li, Z., & Failler, P. (2021). Does Geopolitics Have an Impact on Energy Trade? Empirical Research on Emerging Countries. Journal of Environmental Management.
Maitra, S. (2023). Impact of Economic Uncertainty, Geopolitical Risk, Pandemic, Financial & Macroeconomic Factors on Crude Oil Returns. Research in International Business and Finance.
Yun Xu, Xiaoliang Guo, Wei Jiang, Yanyu Zhang (2026). Geopolitical Shocks and the Global Energy System: Mechanisms of Spillover Transmission
Balcilar, M., Bonato, M., Demirer, R., & Gupta, R. (2018). Geopolitical Risks and Stock Market Dynamics. Emerging Markets Review.
Bariviera, A. F., Zunino, L., & Rosso, O. A.
(2017). Crude Oil Market and Geopolitical Events: An Analysis Based on
Information-Theory-Based Quantifiers. Energy Economics.