LOGIN
Ketika Sistem Menjadi Tujuan: Refleksi Atas Kapitalisme Dan Kerja
26 January 2026 09:48 WIB 90 Views

Ketika Sistem Menjadi Tujuan: Refleksi Atas Kapitalisme Dan Kerja


Oleh: Dedek Kumara


Kapitalisme dan manajemen telah lama diposisikan sebagai pilar utama kemajuan dunia modern. Keduanya menjanjikan efisiensi, pertumbuhan, dan kesejahteraan melalui sistem yang rasional dan terukur. Namun, di balik keberhasilan tersebut, muncul kegelisahan yang semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari. ketika sistem bekerja semakin cepat dan kompleks, di manakah posisi manusia di dalamnya?

Di ruang kerja modern, baik kantor korporasi, pabrik, maupun platform digital, manusia semakin sering dinilai melalui angka, seperti target, produktivitas, Key Performance Indicator (KPI), dan grafik pertumbuhan. Nilai seseorang kerap direduksi menjadi seberapa besar kontribusinya terhadap kinerja organisasi. Pertanyaan mendasarnya bukan lagi sekadar bagaimana sistem ini bekerja, tetapi untuk siapa sistem ini sebenarnya dijalankan. Kapitalisme sering dipahami secara sempit sebagai sistem pasar bebas yang mengatur produksi dan distribusi barang. Padahal, kapitalisme bekerja jauh melampaui urusan ekonomi. Kapitalisme membentuk cara berpikir, nilai hidup, dan relasi sosial. Karl Marx sejak awal mengingatkan bahwa kapitalisme menciptakan hubungan struktural antara pemilik modal dan pekerja, di mana tenaga kerja diperlakukan sebagai komoditas. Sementara itu, Max Weber menunjukkan bahwa kapitalisme modern tumbuh seiring dengan rasionalisasi dan etika kerja yang menekankan disiplin, efisiensi, dan akumulasi.

Dalam perkembangan selanjutnya, Karl Polanyi mengkritik bagaimana pasar dalam kapitalisme modern dilepaskan dari kontrol sosial, sehingga aspek-aspek mendasar kehidupan seperti tenaga kerja dan uang dipaksa tunduk pada logika pasar. Kapitalisme, dengan demikian, bukan sistem netral. kapitalisme membawa nilai, kepentingan, dan konsekuensi sosial yang nyata bagi manusia yang hidup di dalamnya. Manajemen modern hadir sebagai instrumen untuk memastikan kapitalisme berjalan secara efektif. Sejak Frederick Winslow Taylor memperkenalkan scientific management, kerja dipandang sebagai proses yang dapat dipecah, diukur, dan dioptimalkan. Prinsip ini kemudian berkembang melalui teori organisasi dan praktik manajerial kontemporer, dari birokrasi hingga manajemen berbasis data.

Efisiensi memang membawa manfaat besar seperti produktivitas meningkat, biaya ditekan, dan organisasi mampu bertahan dalam persaingan. Namun, ketika efisiensi menjadi tujuan utama, manusia berisiko diperlakukan semata sebagai sumber daya. Max Weber menyebut kondisi ini sebagai iron cage, sebuah situasi ketika rasionalitas yang awalnya diciptakan untuk mempermudah kehidupan justru membelenggu kebebasan manusia. Dalam dunia kerja hari ini, logika tersebut semakin diperkuat oleh teknologi digital dan algoritma yang mengawasi performa secara konstan.

Akibat dominasi kapitalisme dan manajemen yang rasional, manusia sering berada dalam posisi ambivalen, dibutuhkan, tetapi sekaligus dibatasi. Individu dituntut untuk adaptif, fleksibel, dan selalu produktif, namun jarang diberi ruang untuk mempertanyakan makna dari aktivitas tersebut. Herbert Marcuse menyebut masyarakat modern sebagai masyarakat satu dimensi, di mana individu kehilangan daya kritis karena terlalu menyatu dengan sistem. Kerja yang seharusnya menjadi sarana aktualisasi diri berubah menjadi rutinitas yang melelahkan secara mental dan emosional. Alienasi tidak lagi hanya terjadi di pabrik, tetapi juga di kantor ber-AC dan ruang kerja digital. Manusia hadir secara fisik, tetapi terpisah dari makna kerjanya sendiri.

Erich Fromm membedakan orientasi to have dan to be, masyarakat modern cenderung menilai manusia dari apa yang ia miliki dan ia capai, bukan dari siapa dirinya. Refleksi memungkinkan individu mengambil jarak dari tuntutan sistem dan menilai kembali apa yang benar-benar bermakna. Viktor Frankl menunjukkan bahwa bahkan dalam kondisi yang paling menekan, manusia tetap memiliki kebebasan batin untuk memberi makna pada hidupnya. Dalam konteks kerja dan organisasi, refleksi individu bukan berarti menolak sistem sepenuhnya, tetapi menempatkan kerja, produktivitas, dan karier sebagai sarana, bukan tujuan akhir kehidupan.