LOGIN
Bukan Korban Algoritma: Mahasiswa sebagai Pengendali Aktif dalam Relasi dengan AI
12 July 2026 08:25 WIB 51 Views

Bukan Korban Algoritma: Mahasiswa sebagai Pengendali Aktif dalam Relasi dengan AI


Oleh: Surti Wardani

Belakangan ada satu narasi yang terasa akrab, hampir jadi klise: mahasiswa digambarkan sebagai pihak yang "kena dampak" AI. Kecanduan chatbot, kemampuan berpikir kritis yang menurun, plagiarisme yang makin sulit dideteksi. Daftar keluhan ini terus bertambah setiap kali AI disebut dalam konteks pendidikan, seolah mahasiswa hanya diam menerima sementara algoritma bekerja diam-diam membentuk cara mereka belajar dan berkomunikasi. Tapi benarkah begitu? Apakah mahasiswa selalu pasif menerima apa pun yang AI tawarkan, tanpa pilihan dan tanpa kendali sama sekali? Saya kira framing ini keliru, atau setidaknya terlalu menyederhanakan. Mahasiswa bukan objek pasif yang "dijajah" algoritma. Mereka bisa, dan seharusnya, menjadi agen aktif yang mengendalikan bagaimana, kapan, dan untuk apa AI dipakai dalam proses belajar dan berkomunikasi mereka sendiri.

Narasi "korban" ini tentu tidak muncul dari kekosongan. Berbagai riset dua tahun terakhir memang ramai menyoroti sisi risikonya, menurunnya kemampuan berpikir kritis, ketergantungan yang berlebihan, bahkan perasaan tidak autentik atau imposter feeling pada mahasiswa yang terlalu mengandalkan AI dalam menulis karya akademik. Risiko-risiko ini nyata, dan saya tidak bermaksud meremehkannya. Tapi ada satu hal yang sering terlewat dari cara pandang semacam ini: agensi mahasiswa itu sendiri. Seolah setiap kali AI dipakai, hasilnya otomatis adalah kemunduran. Seolah tidak ada satu pun mahasiswa yang cukup sadar untuk mengatur, membatasi, atau menyeleksi bagaimana ia berelasi dengan teknologi ini. Padahal ada perbedaan yang cukup jauh antara mahasiswa yang memakai AI secara reaktif asal pakai, tanpa banyak berpikir dengan mahasiswa yang memakainya secara strategis, dengan tujuan dan batasan yang ia tentukan sendiri.

Di titik inilah kajian komunikasi sebenarnya punya modal argumen yang cukup kuat untuk membalik cara pandang ini. Salah satu pijakannya adalah kritik terhadap model transmisi komunikasi klasik, yang sering disebut hypodermic needle model. Model lama ini memandang audiens sebagai penerima pasif, seakan pesan atau pengaruh media bisa "disuntikkan" begitu saja tanpa perlawanan. Opini ini justru berangkat dari penolakan terhadap model semacam itu mahasiswa tidak sedang "disuntik" pengaruh AI tanpa daya. Mereka aktif memaknai, menyeleksi, dan memutuskan bagaimana AI masuk ke dalam praktik belajar dan komunikasinya. Ada juga uses and gratifications theory yang relevan dipinjam di sini, karena teori ini membalik pertanyaan yang biasa diajukan. Bukan lagi "apa yang AI lakukan pada mahasiswa", tapi "apa yang sebenarnya dicari dan dipenuhi mahasiswa lewat AI", entah itu efisiensi waktu, validasi ide, atau sekadar rasa aman saat berdiskusi tanpa takut dihakimi. Dalam kerangka ini, mahasiswa diposisikan sebagai pengguna aktif yang memilih media untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, bukan korban yang dibentuk begitu saja oleh media itu.

Kajian komunikasi juga sudah lama mengenal konsep literasi media, yang sekarang perlu diperluas jadi literasi AI. Literasi di sini bukan cuma soal paham cara memakai teknologi, tapi kemampuan membaca konteks, mengevaluasi kredibilitas hasil, dan secara sadar memilih kapan sebuah alat digunakan atau justru ditolak. Menempatkan literasi AI sebagai bagian dari kompetensi komunikasi, bukan sekadar isu etika akademik semata, adalah sudut pandang yang jarang diangkat dalam pembahasan-pembahasan yang sudah ada. Dan pada akhirnya semua pijakan ini bertemu pada satu konsep: agency, kapasitas untuk secara reflektif memilih, bukan sekadar merespons. Pengendalian aktif yang saya maksud bukan berarti menolak AI sepenuhnya. Ini soal siapa yang sebenarnya memegang kendali atas proses pemaknaan dalam relasi antara manusia dan AI itu. Sayangnya, sebagian besar riset dua tahun terakhir, baik jurnal kampus maupun opini populer, cenderung memposisikan AI sebagai variabel yang "berdampak pada" mahasiswa. Arahnya searah, dari teknologi ke pengguna. Hampir tidak ada yang membalik arah pandang itu dan melihat mahasiswa sebagai subjek yang aktif menegosiasikan dan mengelola relasinya sendiri dengan AI.

Bentuk pengendalian aktif semacam ini sebenarnya tidak abstrak-abstrak sekali. Bisa dilihat pada mahasiswa yang memakai AI untuk brainstorming, tapi tetap menulis argumennya sendiri dengan bahasa dan logikanya sendiri. Pada mahasiswa yang memverifikasi ulang setiap output AI sebelum benar-benar dipakai, bukan menelannya mentah-mentah. Pada mahasiswa yang dengan sengaja membatasi diri, misalnya menghindari AI untuk tugas-tugas yang justru dirancang melatih kemampuan inti seperti menulis argumentatif atau berbicara di depan umum, karena ia tahu di situlah letak kompetensi yang memang harus ia latih sendiri, bukan diserahkan ke mesin. "Aktif" di sini bukan berarti menolak AI sama sekali. Ini soal kesadaran akan pilihan: tahu kapan AI benar-benar membantu proses, dan kapan AI justru diam-diam mengambil alih proses yang seharusnya ia jalani sendiri.

Tanpa bersikap terlalu optimis, pada kenyataannya, tidak semua mahasiswa punya kesadaran atau kapasitas refleksif yang setara. Agensi semacam ini butuh literasi yang tidak dimiliki semua orang secara merata, ada yang memang tumbuh dengan kebiasaan berpikir kritis yang lebih terlatih, ada pula yang belum pernah diajak sama sekali mempertanyakan cara ia menggunakan teknologi sehari-hari. Karena itu, tanggung jawab ini tidak bisa dibebankan sepenuhnya ke mahasiswa secara individual. Kampus dan dosen punya peran yang sama pentingnya dalam membekali literasi AI sebagai bagian dari kompetensi komunikasi, bukan hanya lewat aturan dan larangan seputar plagiarisme, tapi lewat pembelajaran yang sengaja melatih mahasiswa berpikir reflektif tentang relasinya dengan teknologi.

Pada akhirnya, mahasiswa perlu didorong melihat dirinya sebagai pengendali, bukan korban. Ini menuntut perubahan cara kampus mengajarkan relasi mahasiswa dengan AI dari sekadar larangan dan batasan, menjadi pembekalan literasi yang aktif dan sadar. Barangkali inilah pergeseran kecil yang justru paling dibutuhkan sekarang: dari pertanyaan "bagaimana AI memengaruhi mahasiswa", menjadi "bagaimana mahasiswa memilih menggunakan AI". Terlihat sepele dalam susunan kata, tapi cukup besar dalam cara kita memandang posisi mahasiswa di tengah arus teknologi yang terus berkembang ini.