Oleh:
Achmad Rizayadi
(251010502893)
Athailla Nabila Septriasya (251010503774)
Doni Dewantara (251010501747)
Siti Sifa Nurrohmah (251010501743)
Zahra Nur Faizah (251010501776)
Mahasiswa Universitas Pamulang, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Prodi Manajemen Program Sarjana.
Pengertian
Work From Home (WFH)
Work From Home adalah salah satu sistem kerja yang dilakukan di rumah dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi yang dinilai sangat fleksibel. WFH bertujuan untuk memberikan fleksibilitas kepada karyawan. Kelebihan pada WFH yaitu adanya jam kerja yang fleksibel, menghemat waktu dan biaya, memberikan kenyamanan kerja, meningkatkan produktivitas dan kinerja karena minim dari gangguan kantor, serta mengurangi adanya penyebaran penyakit karena kurangnya interaksi langsung yang menyebabkan risiko penularan lebih sedikit. Kekurangan pada WFH menyebabkan minimnya komunikasi sehingga sering terjadinya miskomunikasi, WFH juga sangat bergantung pada kebutuhan jaringan internet yang tidak selalu stabil, serta Risiko adanya penurunan disiplin kerja.
Pengertian Hybrid Work
Hybrid Work Adalah salah satu sistem kerja campuran yaitu sistem kerja yang mengombinasikan antara kerja WFO (Work From Office) dan WFH (Work From Home) yang dinilai juga sangat fleksibel, tujuan adanya Hybrid Work adalah untuk meningkatkan fleksibilitas, produktivitas, keseimbangan antara komunikasi dan kolaborasi antar tim, serta meminimalisir biaya operasional kantor dan juga biaya transportasi. Hybrid Work memiliki kekurangan seperti pembagian jadwal kerja yang tidak merata serta tidak semua pekerja paham dengan teknologi komunikasi daan informasi.
Pengertian Perilaku Organisasi
Perilaku organisasi adalah studi yang
mempelajari cara berperilaku dalam suatu organisasi. Beberapa faktor yang
mempengaruhi perilaku organisasi antara lain:
1. Faktor
Individu. Faktor yang datang dari karakter, sifat, dan cara berpikir individu
yang berbeda yang
dapat memengaruhi perilaku di dalam sebuah organisasi.
2. Faktor Kelompok. Faktor
yang datang dari interaksi antar anggota tim berupa kepemimpinan dan
komunikasi
yang dapat memengaruhi perilaku di dalam sebuah organisasi
3. Faktor Organisasi. Faktor yang datang dari lingkungan
Perusahaan berupa budaya kerja, struktur
organisasi, dan sistem kompensasi yang
memengaruhi perilaku di dalam sebuah organisasi.
Dampak Work From Home (WFH) Terhadap Perilaku Organisasi
Work From Home (WFH) memberikan bebrapa dampak
terhadap perilaku organisasi antara lain:
1. Pengaruh
Terhadap Komunikasi. Walaupun media digital membuat interaksi menjadi
terstruktur, namun WFH memberikan banyak pengaruh terhadap komunikasi karyawan dalam
sebuah organisasi karena karyawan kurang berinteraksi secara langsung yang
berpotensi menimbulkan miskomunikasi karena tidak ada gestur tubuh dan ekspresi
wajah.
2. Pengaruh
Terhadap Produktivitas. WFH memberikan dampak positif dan juga negatif dalam produktivitas. Dalam sisi positif WFH dapat meningkatkan produktivitas kerja
yang bersifat individu dan butuhnya konsentrasi tinggi karena minimnya gangguan
kantor. Dalam sisi negatifnya WFH juga dapat menurunkan produktivitas kerja
karena tidak semua orang punya ruang yang cukup untuk bekerja dan terdistraksi
oleh lingkungan rumah (tangisan bayi, suara bising dari tetangga).
3. Pengaruh Terhadap
Kedisiplinan Dan Tanggung Jawab. Dalam sisi positifnya WFH bisa meningkatkan
rasa tanggung jawab karena Perusahaan memberikan kepercayaan penuh atas
tugas-tugas yang diberikaN tanpa pengawasan,hal ini membuat karyawan merasa
dihargai dan menjadi termotivasi untuk menyelesaikan tugas walaupun tidak
berada di kantor. Dalam sisi negatifnya WFH juga bisa menurunkan disiplin kerja
karena kurangnya pengawasan fisik. Banyak orang yang tidak bersikap
professional seperti menunda pekerjaan dan dan mementingkan hal-hal pribadi.
Dampak Hybrida Work Terhadap Perilaku Organisasi
Beberapa dampak hybrida work terhadap perilaku
organisasi:
1. Fleksibilitas. Dengan adanya sistem hybrida
work,ini memberikan fleksibilitas yang kuat terhadap pekerjaan di dalam
organisasi dibandingkan dengan sistem WFH,karena karyawan bisa memilih di
kantor apabila membutuhkan komunikasi dan meeting secara langsung dan bisa
memilih dirumah apabila membutuhkan konsentrasi yang tinggi terhadap
penyelesaian pekerjaannya. Hybrida work juga memberikan fleksibilitas terhadap
keseimbangan antara kebutuhan sosial dan kebutuhan pekerjaan,jadi karyawan memiliki rasa kepuasan terhadap pekerjaannya karena
kebutuhan pribadi dan profesional nya seimbang.
2. Adanya
perubahan budaya organisasi. Adanya sistem Hybrida work merubah budaya di dalam
organisasi secara adaptif dan berorientasi. Perusahaan tidak membutuhkan
karyawan secara langsung melainkaN membutuhkan hasil akan tugas tugasnya. Hal
ini membuat budaya lebih terbuka dengan memberikaN rasa saling percaya antar
karyawan satu dengan karyawan lainnya. Namun perusahaan harus tetap menjaga
budaya kerja,karena karyawan yang jarang berinteraksi pasti merasa tidak adanya
lagi kebersamaan. Perusahaan harus tetap membuat pelaksanaan meeting atau
sistem mengerjakan tugas lainnya secara offline maupun online.
3. Perubahan
dalam kerja sama tim. Dengan adanya sistem hybrida work membuat perubahan yang signifikan terhadap kerjasama dengan team. Perusahaan harus menjaga koordinasi
dan membuat jadwal dengan rapih agar tidak adanya miskomunikasi karena
perbedaan tempat kerja.
4. Perubahan terhadap
kepuasan kerja. Adanya sistem hybrida work membuat karyawan memiliki rasa kepuasan terhadap pekerjaannya karena bisa me manage disaat karyawan
membutuhkan fokus yang tinggi ia bisa menyelesaikan tugas di rumah dan jika ia
membutuhkan komunikasi dan meeting secara langsung ia bisa menyelesaikan
tugasnya di kantor.
Tantangan penerapan wfh dan hybrid work terhadap perilaku organisasi
Adanya sistem WFH dan Hybrid work sangat memberikan fleksibilitas dalam menjalankan pekerjaannya. Namun keduanya tetap menimbulkan adanya sebuah tantangan yang sapat mempengaruhi perilaku organisasi terdapat beberapa hambatan utama yang sering terjadi.
KOMODITAS itu terbuat dari Rasa Malu, Kemarahan, Hiburan, bahkan Penderitaan
1. Adanya
miskomunikasi. Adanya sistem WFH dan Hybrid work menimbulkan kurangnya
interaksi antar pegawai yang menyebabkan komunikasi. Kurang efektif terlebih
jika adanya tugas kantor yang membutuhkan interaksi secara langsung (meeting).
Akibatnya munculah miskomunikasi antar karyawan.
2. Kurangnya
pengawasan kerja. Adanya sistem WFH menyebabkan para atasan tidak bisa
mengawasi karyawan secara langsung. Hal ini dapat menyebabkan turunnya
kedisplinan terlebih pada karyawan yang kurang memiliki self-management.
3. Adanya adaptasi
terhadap teknologi. Dengan di terapkannya sistem WFH dan Hybrid work karyawan harus memili kemampuan lebih terhadap teknologi. Namun nyatanya tidak semua
karyawan belum menguasai sepenuhnya mengenai teknologi. Ada kalanya koneksi
internet yang digunakan tidak stabil. Hal inibisa membuat pekerjaan terhambat
dan muncul rasa frustrasi terutama pada karyawan belum belum menguasai secara
penuh mengenai teknologi.
4. Keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan. Etika
karyawan bekerja dirumah batas antara waktukerja dan waktu istirahat tidak
efektif. Terutama bagi karyawan yang tidak bisa memenage waktu dengan baik,
yang akhirnya dapat menyebabkan kurangnya rasa kepuasan kerja. Maka dari itu
perusahaan harus membuat jadwal yang lebih efektif supaya karyawan dapat
mengatur waktu kerja dan waktu istirahat dengan baik.
Solusi untuk Meningkatkan Perilaku Organisasi dalam Sistem WFH dan Hybrid Work
pada sistem kerja wfh dan wfo memang memberikan fleksibilitas dalam bekerja namun sistem kerja tersebut menimbulkan beberapa masalah seperti komunikasi yang kurang efektif, pengawasan kerja, budaya kerja yang renggang. Maka dari itu, perusahaan harus memiliki strategi yang tepat untuk menjaga perilaku organisasi tetap positif dan produktif agar perusahaan berjalan dengan baik sesuai dengan tujuan perusahaan.
1. Penggunaan
Teknologi Komunikasi yang Efektif. komunikasi adalah hal yang paling utama pada
saat karyawan bekerja saat jarak jauh. perusahaan harus memberikan menyediakan
platform komunikasi yang dapat diakses oleh karyawan seperti Slack, Microsoft
Teams atau zoom untuk memudahkan karyawan dalam berdiskusi harian, meeting dan
koordinasi kerjaan.
2. Peningkatan
budaya kerja berbasis kepercayaan. Dalam sistem wfh dan hybrid, manajer di
tuntut oleh pemimpin perusahaan utnuk memberikan pengawasan dari pengawasan
fisik ke pengawasan hasil kerja karyawan (output-based). Maka dari itu, harus
mengutamakan kepercayan, tanggung jawab dan keterbukaan antar anggota
organisasi. Maka, karyawan yang merasa dapat dipercaya oleh perusahaan akan
cenderung lebih disiplin, bertanggung jawab dan memiliki loyalitas yang tinggi
bagi perusahaan. Pemimpin juga harus memberikan reward pada karyawan seperti
apresiasi dan feedback secara rutin agar dapet meningkatkan kinerja karyawan
dan menjaga hubungan kerja antar karyawan, bukan hanya saat evaluasi rutin
saja.
3. Evaluasi
kinerja yang efektif dan teratur. Pada sistem evaluasi kinerja harus
disesuaikan dengan pola sistem kerja jarak jauh. Perusahaan menggunakan KPI dan
OKR yang jelas dan terukur yang berfokus pada penilaian hasil kerja karyawan
bukan pada jam kerja. Perusahaan juga harus melakukan one-on-one meeting
(pertemuan secara online) misalnya mingguan atau dua minggu sekali untuk
memembahas perkembangan progres, kendala dan kebutuhan dukungan atau solusi
yang dibutuhkan karyawan. Dengan begitu, displin dan tanggung jawab karyawan
akan tetap terjaga tanpa harus diawasi secara langsung seperti dikantor.
4. Pelatihan dan
pengembangan karyawan. Perubahan sistem kerja yang bermula selalu di kantor
menjadi sistem WFH dan Hybrid workembuat sebagian karyawan merasa terbebani,
terutama bagi karyawan yang belum memahami sepenuhnya mengenai teknologi, dan
karyawan yang kurang bisa memenage waktu. Untuk hal itu perusahaan perlu membuat tindakan
penyelenggaraan pelatihan dan pengembangan karyawan, supaya karyawan merasa
lebih di perhatikan dan di dukung secara penuh oleh perusahaan. Selain itu
perusahaan juga harus menjaga hubungan antara karyawan, suapaya karyawan tidak
merasa berjarak. Hal ini sangat penting supaya kerja sama tim tetap bejalan.
Referensi
Mustajab, D., Bauw, A., Ratih, A., Solihin, A., & Habib, M. (2020). Work from home: An empirical study of organization behavior during Covid-19 pandemic. Journal of Industrial Engineering & Management Research, 1(2), 16–22.
Purwanto, A., Asbari, M., Fahlevi, M., Mufid, A., Agistiawati, E., Dewanata, P., & Hadi, F. S. (2020). Analisis dampak work from home (WFH) terhadap motivasi kerja dan produktivitas karyawan di era pandemi covid-19. Jurnal Ilmu Pemerintahan Suara Khatulistiwa, 5(2), 121-135.
Scribd. (2020). E-modul WORK FROM HOME. Diambil dari https://www.scribd.com/presentation/460176119/e-modul-WORK-FROM-HOME
Sobirin, A. (2014). Perilaku Organisasi (BMP); Modul 1 / EKMA4158. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.
Sosial79. (2021). Pengertian hybrid working, karakteristik, kelebihan, kekurangan dan tantangan hybrid working. Diambil dari https://www.sosial79.com/2021/09/Hybrid%20Working.html