Oleh:
Surti Wardani
Perguruan
tinggi di Indonesia sedang mengalami dinamika yang unik: kehadiran dosen dari
berbagai generasi dalam satu ruang akademik. Ada dosen senior yang sarat
pengalaman, ada pula dosen muda yang penuh energi dan gagasan baru. Interaksi
lintas generasi ini, jika dikelola dengan bijak, dapat melahirkan harmoni yang
memperkaya ekosistem pendidikan tinggi. Namun, bila diabaikan, perbedaan
generasi justru bisa menimbulkan jurang komunikasi, konflik kepentingan, bahkan
stagnasi dalam inovasi.
Generasi Dosen
di Indonesia
Data
Pangkalan
Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) 2024 menunjukkan komposisi dosen
Indonesia masih didominasi kelompok usia produktif-muda. Sekitar 41% dosen berada di
rentang usia 26–35 tahun, sedangkan 28% berusia 36–45 tahun, dan hanya
sekitar 15%
berusia di atas 56 tahun. Sementara itu, jumlah dosen bergelar doktor
baru mencapai 25%
pada 2025,
meningkat dari sekitar 13% pada 2015.
Data ini memperlihatkan dua hal: regenerasi dosen berjalan cukup cepat, tetapi kualitas kualifikasi akademik (doktor) masih menjadi tantangan besar.
Potret Interaksi Lintas Generasi di Kampus
Di
banyak kampus, interaksi antar-generasi dosen sudah mulai terlihat jelas.
·
Universitas Indonesia (UI) beberapa tahun
lalu meluncurkan program mentor-mentee,
di mana dosen senior membimbing dosen muda tidak hanya dalam penelitian, tetapi
juga dalam etika akademik. Praktik ini membantu transfer nilai dan pengalaman.
·
Universitas Gadjah Mada (UGM) membentuk kolaborasi riset lintas usia,
di mana tim peneliti diharuskan beranggotakan kombinasi dosen muda dan senior
agar ada keseimbangan antara inovasi metodologis dan kedalaman teoretis.
·
Institut Teknologi Bandung (ITB) lebih jauh
menekankan internasionalisasi dengan mendorong dosen muda yang berusia di bawah
40 tahun untuk studi doktoral ke luar negeri. Namun, di sisi lain, dosen senior
masih memegang peran dominan dalam kepemimpinan akademik dan tata kelola
fakultas.
Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa interaksi lintas generasi bisa menjadi peluang, sekaligus tantangan bila tidak dikelola dengan komunikasi yang sehat.
Gaya
Komunikasi Dosen Lintas Generasi
Salah
satu aspek paling krusial dalam hubungan antar-dosen adalah gaya komunikasi.
Cara dosen senior dan dosen muda menyampaikan gagasan, mengelola kelas, maupun
berinteraksi dengan rekan sejawat sering kali dipengaruhi oleh pengalaman,
latar budaya, serta perkembangan teknologi.
Dosen
senior
umumnya mengandalkan komunikasi formal, hierarkis, dan berbasis tatap muka.
Mereka lebih terbiasa dengan pola top-down,
di mana arahan diberikan secara tegas dan mahasiswa maupun kolega diharapkan
mendengarkan. Kekuatan gaya komunikasi ini adalah kejelasan instruksi serta
penekanan pada disiplin. Namun, tantangannya, gaya ini bisa terasa kaku atau
kurang responsif bagi generasi mahasiswa yang terbiasa dengan komunikasi
interaktif.
Sebaliknya,
dosen
muda
cenderung lebih cair dan partisipatif. Mereka mengintegrasikan teknologi
digital, menggunakan platform learning
management system (LMS), media sosial akademik, atau aplikasi
perpesanan dalam berkomunikasi. Gaya ini biasanya lebih dekat dengan mahasiswa
karena interaktif dan adaptif. Namun, kelemahannya, bila tidak dikelola dengan
batas profesional, gaya komunikasi yang terlalu egaliter bisa dianggap kurang
menjaga wibawa akademik.
Di
ruang interaksi antar-dosen, perbedaan gaya komunikasi ini juga kadang
menimbulkan jarak. Misalnya, rapat senat fakultas bisa berlangsung alot ketika
dosen muda lebih vokal mengusulkan perubahan kurikulum berbasis teknologi,
sementara dosen senior menekankan pentingnya mempertahankan tradisi akademik.
Dalam kasus lain, komunikasi informal dosen muda lewat grup WhatsApp bisa
dipandang kurang sopan oleh dosen senior yang terbiasa dengan mekanisme resmi
dan tertulis.
Meski
demikian, perbedaan gaya komunikasi sebenarnya bisa menjadi kekuatan. Dosen
senior dapat menjadi teladan dalam menjaga etika komunikasi akademik, sementara
dosen muda mengajarkan fleksibilitas dan pemanfaatan media digital. Dengan pengelolaan
yang tepat, lahirlah kombinasi komunikasi yang efektif: tetap menjaga wibawa
akademik, tetapi sekaligus inklusif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Potensi Sinergi: Pengalaman Bertemu Inovasi
Dosen
senior biasanya memiliki keunggulan dalam hal jejaring akademik, pemahaman
birokrasi kampus, serta kedalaman pengalaman mengajar. Sebaliknya, dosen muda
umumnya unggul dalam mengadopsi teknologi pembelajaran, keberanian
mengeksplorasi metode baru, dan produktivitas publikasi internasional.
Bila digabungkan, keduanya bisa melahirkan sinergi yang saling melengkapi. Misalnya, dosen muda mendorong penggunaan learning management system (LMS), sementara dosen senior mengajarkan pentingnya integritas akademik dan konsistensi dalam penelitian.
Hambatan dan Krisis Komunikasi
Namun,
perbedaan generasi juga bisa memunculkan ketegangan. Ada dosen senior yang
merasa “ditinggalkan” oleh perkembangan digital, dan ada dosen muda yang merasa
suaranya diabaikan oleh senioritas. Hambatan komunikasi ini bisa melahirkan
polarisasi: senior dianggap kuno, muda dianggap arogan.
Fenomena
“kesenjangan komunikasi” ini tercermin dalam beberapa forum akademik, di mana
dosen muda lebih aktif mengusulkan metode pembelajaran berbasis teknologi,
tetapi dosen senior lebih berhati-hati, menganggap tradisi akademik tidak boleh
begitu saja diubah.
Menata Kolaborasi Lintas Generasi
Agar
interaksi lintas generasi menghasilkan kolaborasi positif, beberapa langkah
perlu dilakukan:
1. Mentoring dua arah. Tidak hanya
dosen senior membimbing dosen muda, tetapi juga dosen muda membantu dosen
senior dalam literasi digital.
2. Kebijakan kolaboratif. Kampus perlu
memberi insentif riset dan publikasi lintas generasi agar terjadi pertemuan
pengalaman dan inovasi.
3. Ruang dialog. Forum akademik
harus dibuat inklusif, bukan sekadar formalitas, sehingga gagasan dosen muda
dan kebijaksanaan dosen senior bisa bertemu.
4. Budaya komunikasi
setara.
Perbedaan usia tidak boleh menciptakan hierarki yang membungkam, melainkan
ruang yang memperkaya.
Penutup
Kehadiran
dosen lintas generasi adalah sebuah keniscayaan dalam dunia akademik Indonesia.
Tantangannya bukan pada perbedaan usia, melainkan pada kemampuan mengelola
komunikasi dan kolaborasi.
Jika
pengalaman dosen senior bertemu dengan semangat inovasi dosen muda, perguruan
tinggi akan melahirkan tradisi akademik yang kokoh sekaligus adaptif. Namun,
bila kepemimpinan kampus gagal menjembatani komunikasi lintas generasi, maka
yang lahir adalah jurang pemisah yang justru merugikan mahasiswa sebagai
penerima utama pendidikan.
Maka, kunci masa depan
perguruan tinggi Indonesia bukan hanya pada regenerasi dosen, tetapi juga pada
kemampuan menjadikan perbedaan generasi sebagai sumber kekuatan, bukan sumber
konflik