LOGIN
Komunikasi di Era Digital: Ketika Kecepatan Mengalahkan Kedalaman
03 January 2026 13:06 WIB 54 Views

Komunikasi di Era Digital: Ketika Kecepatan Mengalahkan Kedalaman


Oleh: Surti Wardani

Kita sedang hidup dalam fase sejarah ketika kecepatan menjadi mata uang utama. Bukan hanya dalam ekonomi dan teknologi, tetapi juga dalam cara manusia memahami, merasakan, dan membentuk hubungan. Di ruang digital, yang memadatkan jarak, memendekkan waktu, dan mempercepat aliran pesan, komunikasi mengalami pergeseran mendasar. Kita tidak hanya berbicara lebih cepat, tetapi juga berpikir dan merespons dalam ritme yang makin mendesak. Pertanyaannya: apa yang hilang ketika komunikasi bergerak terlalu cepat?

Dari perspektif kultural, era digital menciptakan budaya baru yang dapat disebut sebagai budaya percepatan makna. Budaya yang memprioritaskan reaksi cepat sebagai standar kecerdasan sosial: merespons segera berarti mengikuti arus, memahami tren, dan tetap relevan. Namun budaya ini secara diam-diam meluruhkan norma-norma komunikasi yang sebelumnya memberi ruang bagi kontemplasi, keheningan, dan perenungan. Dalam banyak masyarakat, terutama di Asia, percakapan mendalam dan jeda diam dianggap sebagai bentuk kebijaksanaan. Kini, nilai itu digantikan oleh kebutuhan untuk “selalu hadir” di platform digital. Di sinilah terlihat benturan antara ritme kultural yang lambat dengan ritme algoritmik yang cepat.

Secara psikologis, percepatan komunikasi menciptakan beban kognitif baru. Komunikasi digital menuntut kita untuk terus memproses informasi dalam jumlah besar dan dalam kecepatan tinggi. Otak dipaksa mengelola pesan yang masuk tanpa henti, dari notifikasi singkat hingga diskusi daring yang tidak pernah berakhir. Konsekuensinya muncul dalam bentuk keletihan digital, ketidakmampuan mempertahankan fokus, dan melemahnya sensitivitas terhadap pesan yang lebih kompleks dan emosional. Kita terbiasa membaca cepat, bukan memahami; merespons cepat, bukan memaknai.

Dalam konteks teori komunikasi, fenomena ini dapat dibaca melalui Teori Media Richness yang dikembangkan Daft dan Lengel. Menurut teori ini, efektivitas komunikasi ditentukan oleh “kekayaan media” atau kemampuan media menyampaikan nuansa dan konteks. Media digital yang cepat dan singkat, seperti pesan instan, komentar, atau unggahan singkat, adalah media miskin yang tidak dirancang untuk percakapan berlapis makna. Ketika masyarakat mulai mengandalkan media miskin untuk isu-isu berat, yang terjadi adalah penyusutan kedalaman. Kita mencoba memaksa kompleksitas ke dalam kalimat pendek, meme, dan emoji, seolah makna dapat disederhanakan tanpa kehilangan esensinya.

Teori lainnya, Communication Accommodation Theory dari Howard Giles, menjelaskan bagaimana manusia cenderung menyesuaikan gaya komunikasinya dengan orang lain atau lingkungannya. Di ruang digital, penyesuaian ini tidak lagi terjadi pada individu, melainkan pada struktur algoritmik. Pengguna menyesuaikan tempo komunikasi mereka dengan logika platform, cepat, ringkas, dan reaktif, untuk tetap terlihat, terbaca, dan relevan. Kita bukan lagi menyesuaikan diri dengan manusia lain, tetapi dengan mekanisme digital yang menentukan visibilitas dan perhatian.

Data terbaru memperkuat fenomena ini. Sebuah penelitian tahun 2024 yang melibatkan 4.200 responden di lima negara Asia Tenggara menemukan bahwa 68% pengguna media sosial merasa “terdorong” untuk merespons pesan secepat mungkin karena takut dianggap tidak peduli atau tidak update. Studi lain pada 2023 menunjukkan bahwa pengguna yang terlalu sering terpapar komunikasi cepat mengalami penurunan kemampuan membaca mendalam hingga 23%, terutama di kalangan usia 18–30 tahun. Kedua temuan ini menegaskan bahwa kecepatan bukan hanya memengaruhi pola interaksi, tetapi juga mengubah cara kerja kognitif dan emosional manusia.

Namun yang paling penting adalah konsekuensi kemanusiaannya. Komunikasi mendalam membutuhkan kualitas yang tidak bisa dipercepat: empati, perhatian, dan kesediaan untuk mendengarkan. Ketika semuanya dipadatkan menjadi respons instan, kita kehilangan kesempatan untuk benar-benar hadir bagi orang lain. Relasi yang seharusnya dibangun dengan sabar menjadi tergantikan oleh hubungan yang didasarkan pada ritme notifikasi. Kedalaman digantikan performa; makna digantikan kecepatan.

Dalam perspektif nilai kemanusiaan, kita perlu mengingat kembali bahwa komunikasi bukan sekadar pertukaran informasi. Ia adalah proses membangun kepercayaan, berbagi pengalaman, dan memahami sesama. Kemanusiaan tidak bergerak dalam kecepatan kilat; ia berdenyut dalam ritme yang pelan, penuh perhatian, dan penuh ruang untuk jeda.

Karena itu, tantangan kita di era digital bukanlah memperlambat teknologi, itu mustahil, melainkan memperlambat diri kita sendiri. Mengambil jeda sebelum merespons, membaca hingga selesai sebelum beropini, bertanya sebelum menyimpulkan, dan hadir untuk mendengarkan tanpa tergesa. Menciptakan kembali ruang kedalaman dalam dunia yang mendesak kita untuk terus bergerak cepat adalah bentuk perlawanan kecil yang sangat manusiawi.

Pada akhirnya, kita tidak sedang berperang dengan teknologi, tetapi dengan kecenderungan kita sendiri untuk menyerah pada ritme yang tidak sejalan dengan kebutuhan kemanusiaan. Komunikasi yang cepat mungkin membuat kita lebih terhubung, tetapi hanya komunikasi yang mendalam yang membuat kita lebih memahami. Dalam pusaran notifikasi yang tidak pernah berhenti, memilih untuk kembali pada kedalaman adalah langkah untuk menjaga diri tetap utuh sebagai manusia.

Daftar Pustaka

Daft, R. L., & Lengel, R. H. Media Richness Theory: Organizational Information Requirements, Media Capabilities, and Structural Design. Addison-Wesley, 1986.

Giles, H. Communication Accommodation Theory. In: Berger, C. R., Roloff, M. E., & Roskos-Ewoldsen, D. (Eds.). The Handbook of Communication Science. SAGE Publications, 2009.

Hadi, M., & Rachman, A. (2024). “Digital Response Pressure and Perceived Social Obligation Among Young Adults in Southeast Asia.” Journal of Digital Interaction Studies, 12(1), 45–63.

Santos, R., Nguyen, L., & Wirawan, D. (2023). “Reading Depth Decline in High-Frequency Social Media Users: A Cross-Cultural Study.” New Media & Cognition Review, 7(3), 112–130.